Di beberpa waktu lalu aku sempat posting mengenai perjalananku di Banyuwangi daSetelah puas menikmati berbagai destinasi di Bali dan Banyuwangi mulai dari gunung, kuliner, hingga lautan maka ini saatnya balik ke Surabaya buat menyleasiakan sesungguhnya yaitu mengikuti Ekspedisi Nusantara Jaya.

Sebelum lebih jauh bercerita mengenai perjalananku, ada baiknya temen tau sekilas mengenai apa itu Ekspedisi Nusantara Jaya atau singkatannya ENJ. Nah ENJ sendiri merupakan program sosial seperti KKN namun dalam durasi waktu yang lebih singkat. Program ini juga inisiasi dari Kemenko Maritim untuk memperkenalkan potensi laut Indonesia kepada para pemuda. Program ini didukung penuh oleh Kemenko Maritim baik dalam tenaga maupun dana. Selain itu para volunteer ENJ yang lolos melalui seleksi juga diwajibkan untuk menggunakan kapal laut sebagai transportasinya. Ini memberikan pengalaman tersendiri yang sangat menarik untuk di ceritakan di selanjutnya.

Nah setelah kami pulang dari Banyuwangi menggunakan kereta Mutiara Timur kami akhirnya sampai pagi hari di Stasiun Gubeng pagi hari. Kami langsung menuju ke pombensin terdekat untuk nyegerin badan. Baru setelah itu kami berenam, AKu, Novi, Sandi, Gebs, Diana, dan Citra langsung menuju ke Grha Pelni di kota untuk langsung bertemu dengan teman-teman yang juga menylesaikan jalan-jalan dadakan mereka ke berbagai tempat. Jumlah tim kami berjumlah sekitar 18 orang dari tim UGM.

Menuju Kapal Sanus 57 dengan Tugboat

Menuju Kapal Sanus 57 dengan Tugboat

Setelah kami berkumpul akhirnya kami diberitahu bahwa kapal sudah bersandar di selat Madura. Kami kira perjalanan kami akan tertunda lagi karena Kapal kembali tidak bisa kembali ke Surabaya karena cuaca buruk. Nasib baik sedang berada disisi kami kali ini. Selain itu kami juga diijinkan kapten kapal untuk menginap di kapal selama semalam sebelum berlabuh besok hari di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya.

Jadi akhirnya kami menyewa tugboat untuk mengantar kami menuju ke kapal Sabuk Nusantara 57 yang sedang akan mengatarkan kami ke pulau Maradapan. Kapal Sanus 57 memiliki track yaitu pulau masalembo – pulau keraimaian – pulau matarisih – pulau maradapan – pulau marabatuan – Batulicin – Kotabaru. Seluruh track tersebut apabila lancar dapat ditempuh dalam waktu 4 hari.

Bermalam di selat Madura

Setibanya di kapal Sanus 57 kami disambut hangat dengan ABK kapal. Kami langsung menuju ke cafetaria untuk berkenalan dengan para ABK dan kapten kapal. Setelah berkenalan kami berkeliling disekitar kapal. Kapal Sanus 57 ini juga merupakan kapal baru, maka dari itu kapal ini sangat bersih bahkan masih seperti baru.

Senja di tengah Selat Madura

Sore pertama dikapal sungguh luar biasa. Kami bisa melihat sunset dan jembatan Suramadu dari sisi yang sangat jarang bisa orang liat yaitu ditengah selat Madura. Lalu Lalang kapal besar juga menjadi pemandangan kami. Angin yang sejuk serta goyangan mulus dari ombak selat Madura menambah kesyahduan kami menikmati sunrise. Ketika malam hari kami juga disugukan dengan berbagai kelap kelip lampu pelabuhan dan kapal yang juga sedang berlabuh.

Malam pertama tidur dikapal sejujurnya rada aneh karena kita merasakan goyangan yang lembut dari arus malam selat Madura. Cuma justru ini baru permulaan kami sebelum kami benar-benar merasakan goyangan asoy di tengah laut Jawa.

Sunrise di tengah jembatan Suramadu diambil dari atas kapal Sanus 57

Esok harinya kapal bersandar ke Pelabuhan Tanjung Perak. Disitulah para penumpang yang ingin menuju ke pulau-pulau masuk. Yang sebelumnya tenang akhirnya sekarang mulai ramai. Sejujurnya pada saat penumpang masuk, kapal mulai berubah wujud menjadi pasar apung. Banyak sekali bahan masuk mulai dari sayur-sayuran, motor, ikan, dan berbagai keperluan lainnya yang akan dibawa ke pulau tujuan masing-maisng. Belum lagi di dalam yang mulai sesak dengan bau minyak angin dimana-mana. Rasanya beneran kaya pasar waktu itu.

Setelah selesai bersandar di Pelabuhan Tanjung Perak akhirnya perjalanan kami dimulai di siang hari. Akhirnya kapal kami berangkat menuju ke lautan lepas. Seneng rasanya setelah sempat seminggu tertunda akhirnya berangkat juga ke tujuan kami yaitu Pulau Maradapan. Disepanjang selat Madura aku melihat berbagai bentuk kapal. Selain itu ternyata baru tau kalau pelabuhan itu luas banget.

Kapal Sabuk Nusantara 57

Kapal Sabuk Nusantara 57

Sekitar 2 jam waktu yang diperlukan untuk melewati selat Madura kearah utara menuju laut Jawa. Lepas dari selat akhirnya kami memasuki laut Jawa. Ketika masuk di Laut Jawa memang goyangan kapal jauh lebih terasa. Karena malam hari juga aku sendiri tidak cukup bisa melihat seperti apa lautan itu. Tapi intinya gelap, dan Cuma bisa merasakan goyangan saja.

Aku juga penasaran bagaiamana bisa kapal ini menuju kepulau Masalembu. Atas kebaikan kapten kapal kami mahasiswa diijinkan masuk untuk melihat bagaimana ruangan kemudi. Berbagai peralatan navigasi ada didalamnya. Maka dari itu kapal bisa berjalan lurus munuju tujuan. Kecepatan kapal sebenarnya sangatlah lambat, mungkin sekitar 20-30 km perjam. Tak heran jika perjalanan melalui laut memang lebih membutuhkan waktu.

Datang di Masalembu, Pulau Tengah-tengah Laut Jawa

Pelabuhan Pulau Masalembu

Pemandangan pagi hari di pelabuhan pulau Masalembu

Setelah semalam sedikit mabuk karena gelombang laut jawa yang cukup membuat kapal kami bergoyang kencang, akhirnya pagi hari kami sampai di tujuan pertama yaitu Pulau Masalembu. Pulau yang teletak persis ditengah-tengah laut Jawa. Sebelumnya juga nggak pernah mimpi buat main kesini, Cuma sekedar tau aja dari TV atau cerita mengenai tenggelamnya kapal Tampomas.

Pulau ini sangat cantik sekali, ada bukit ditengah dan lautnya sangat biru sekali. Gradasi biru lautnya sangat indah . Selain itu airnya sangat jernih sehingga bisa lihat dasar laut nya yang dipenuhi pasir putih. Ombaknya juga sangat tenang. Rasanya ingin nyebur.

Akhirnya setelah semalaman torombang-ambing di tengah lautan, kami menampakan kaki di daratan. Memang rasanya pertama saat turun sedikit goyang. Mungkin mabuk laut kali ya.

Foto Dermaga Pulau Masalembu

Sempetin foto di dermaga Pulau Masalembu. Gradasi biru lautnya bagus banget.

Namun ketika sedang menikmati keindahan pantai Masalembu di dermaga, semua berubah ketika kita benar-benar memasuki bibir pantai pulau Masalambu. Sampah di sepanjang garis pantai berserakan, Bau menyengat yang nggak enak banget, belum diawal dermaga banyak sekali bangkai kecoa yang telah gepeng karena terinjak-injak kendaraan yang lalu Lalang ke dermaha. Ini benar-benar merusak total keindahan pulau Maselembu. Bener-bener merusak ! Saya berharap ini bisa dibenahi oleh masyarakat setempat khususnya pemerintah Masalembu. Ini benar-benar merusak keindahan pulau ini.

Sampai di kota Masalembu sekilas memang seperti desa bisasa yang padat penduduk. Lalu Lalang sepeda dan motor juga cukup banyak. Kami sih langsung menuju ke salah satu warung disana dan menikmati cumi hitam yang enak banget plus murah. Jarang-jarangkan menikmati cumi harga murah kalau di Kota.

Kurang lebih sekitar 3-4 jam kita bersandar di Masalembu, perjalanan kami lanjutkan ke pulau selanjutnya yaitu Pulau Keramaian. Kata kapten kapal pulau ini ditempuh sekitar 4 jam dari pulau Masalembu. Padahal kalau dipeta sih nggak terlalu jauh.

Pelabuhan Masalembu

Sempetin foto dulu di depan tulisan Pelabuhan Masalembu.

Perjalanan kali ini ombaknya tidak terlalu tinggi. Masih nikmatlah untuk dinikmati. Selain itu ditengah jalan ternyata kami juga lewat pulau namanya Masakambing. Sekilas ku kira bercandaan, ternyata beneran. Jadi di utara Masalembu itu terdapat salah satu pulau kecil yang aslinya namanya Pulau Masalembu Kecil dan akhirnya disebut dengan pulau Masakambing. Katanya disitu terdapat habitat salah satu burung langka yang cuman ada disitu. Cuma aku sendiri lupa nama burungnya apa.

Sambil menunggu 4 jam perjalanan kami menghabiskan waktu dengan ngobrol-ngobrol sekalian lihat dangdut di Cafetaria. Syahdulah pokoknya.

Transit Sejenak Keramaian

Pelabuhan Pulau Keramaian

Pelabuhan Pulau Keramaian pada malam hari

Baru sekitar magrib atau jam 5 an kami sampai di Pulau Keramaian. Sekilas pulau ini ngak jauh beda dengan pulau Maselembu. Cuman memang secara pemandangan dan keindahan bagusan pulau Masalembu. Kalau soal kebersihan, pulau Keramaian ini bersih banget.

Ya menikati sejenak sunset di dermaga pulau Keramaian. Dergama disini jauh lebih Panjang daripada dermaga Maselembu. Bahkan kalau jalan dari pulau ke ujung dermaga tempat kapal bersandar bisa mencapai 15 menit. Susasana sunset di sore itu bener-bener indah. Beberapa temen bahkan mengadakan lomba lari cepat. Kaya ngak punya capek, tapi sore itu bener-bener asyik.

Malamnya kami diajak warga pulau Keramaian untuk mampir di rumah mereka. Ya karena sudah di ajak akhirnya kami semua tim ENJ beserta beberapa ABK berkunjung ke salah satu rumah warga disana. Rumah disana bener-bener rapi dan rata-rata berada diatas tanah. Rumah panggunglah. Kami diberikan sambutan hangat dengan secangkir teh dan beberapa cemilan (yang tersisa dari waktu lebaran kayanya).

Rumah warga Pulau Keramaian

disambut dengan hangat di salah satu rumah warga Pulau Keramaian

Oya rumah sana juga masih menggunakan genset kalau malam hari. Jadi tidak semua rumah terang benderang. Karena polusi cahaya yang minim pada saat malam hari, bintang-bintang juga terlihat sangat indah. Ini bener-bener ngingetin susasana KKNku tahun lalu di Pulau Rote yang sama-sama nggak ada listrik malam hari namun beratapkan ribuan bintang.. syahdu sekali.

Aku mendapatkan info Dari warga sekitar, tindak pemakian Narkoba dipulau ini cukuplah besar. Karena disana tidak ada Polisi juga jadi pengawasan dan tindakannya juga susah. Mana ini pulau juga ditengah laut Jawa lagi. Namun tindakan krimanal sih katanya minim. Ya iya ditengah laut di pulau kecil. Ngapa-ngapain pasti susah larinya. Semoga ini bisa diperbaiki bersama-sama.

Kami balik sekitar jam 9 malam pada saat itu ke kapal. Karena memang kapal kami akan bermalam dilaut sembari menuju ke pulau Matasiri.

Menikmati Keindahan Pulau Matasiri

Pulau Matasiri

Indahnya Pulau Matasiri

Destinasi selanjutnya ialah pulau Matasiri. Pulau ini sudah termasuk di wilayah adminitratif Kota Baru. Jaraknya dari pulau Keramaian juga sangat jauh. Perlu waktu sekitar kurang lebih 8 jam hingga sampai di pulau tersebut. Untungnya perjalanan kesana kondisi cuaca sedang berpihak kepada kami. Jadi goyangan yang terjadi juga goyangan-goyangan syahdu. Makanya malamnya kami dapat tidur dengan nyenyak di kapal.

Akhirnya sinar fajar mulai menampakan cahayanya. Enaknya di kapal itu, kamu bisa melihat sunrise dan sunset. Jelas hal ini karena sejauh 360 derajat yang dilihat hanyalah garis cakarawala.

Ditengah perjalanan yang jauh biasanya kita mengisi waktu dengan menonton dangdut, bercerita, main di ruang kemudi, atau di pinggir kapal menikamti hembusan angin sambil lihat ikan terbang yang loncat kesana kesini disamping kapal. Yang pasti ditambah segelas kopi menambah kenikmatian pagi itu.

Baru sekitar pagi menjelang siang akhirnya kami tiba di destinasi Pulau Matasiri. Pulau ini merupakan gugusan kepulauan kecil diselatan Kotabaru yang didalamnya terdapat 4 pulau yaitu pulau Matasirih, Pulau Maradapan (destinasi kami yang sudah terlihat diujung mata), Pulau Kalambau (pulau yang berada didekat Pulau Matasiri), pulau Marabatuan (jaraknya cukup jauh dari 3 pulau sebelumnya, hanya terlihat dari Maradapan namun samar-samar).

Berenang di laut Pulau Matasiri

Berenang di laut Pulau Matasiri pinjem pelampung kapal.

Pada saat kami dikapal kami juga sempat bercerita dengan para penumpang yang lain atau ABK yang jauh lebih paham karena mereka penduduk lokal atau memang sering naik kapal Sanus 57.  Mereka bercerita banyak sekali keangkeran dan mitos di kepulauan tersebut. Mulai dari mitos barang siapa ke pulau Kalambau mereka tidak bisa kembali, Keangkeran setan-setannya, serta berbagai mitos lainnya yang membuat orang untuk berpikir ulang tinggal disana. Termasuk pulau Maradapan, pulau destinasi kami. Namun karena sudah terlanjur juga dan tekat yang kuat ya show must go on !

Terlepas dari semuanya itu, pulau ini benar-benar indah sekali. Bahkan beraniku bilang masih perawan. Benar-benar perawan kembang. Lautnya yang biru muda, angin yang sejuk, ombak yang tenang, dan beberapa elang bertebangan mencari ikan di laut menjadi pemandangan yang benar-benar ngak bisa untuk disia-siakan. Akhirnya beberapa temen sampai beranikan diri untuk renang disekitar kapal karena memang hasrat untuk nyebur sangat tinggi. Beberapa temen juga ikut ABK untuk melihat kondisi penduduk Matasiri. Aku sendiri hanya mendokumentasikan pulau ini. Sayang untuk dilewatkan sekali untuk mendapatkan foto dan video yang di Google aja kaga ada.

Bangunan rumah warga Pulau Matasiri

Bangunan rumah warga Pulau Matasiri

Oya, sedikit informasi kalau pulau ini tidak memiliki dermaga seperti 2 pulau sebelumnya. Jadi kapal hanya bisa bersandar dan jika mau turun kepulau harus menggunakan kapal nelayan.

Sekitar 3 jam kapal bersandar di pulau Matasiri akhirnya kami melanjutkan perjalanan ke destinasi utama tim Ekspedisi Nusantara Jaya Universitas Gadjah Mada tahun 2017, Pulau Maradapan.

Sampai di Maradapan

Perjalanan menuju pulau Maradapan dari pulau Matasiri memerlukan waktu kurang lebih satu hingga dua jam. Walau jarak sebenarnya dekat, tapi kapal kami harus berputar mengelilingi pulau karena rumah penduduk ada di sisi lain dari arah pulau Matasiri. Tapi gara-gara itu kami jadi tahu mengenai sekitaran pulau ini. Aku sendiri mendapatkan gambaran jelas mengenai pulau ini untuk di dokumentasikan.

First impression terhadap pulau ini “ini pulau subur banget ya, banyak pisangnya dan pohonnya. Padahal ku kira ini pulau karang seperti gunung kidul. Terlihat akan panas, dan susah menemukan tanda kehidupan. Semoga selamat dan terhindar dari mitos-mitos masyarakat sini”

Akhirnya siang hari sekitar jam 12 siang kapal kami sampai di pulau Maradapan. Untuk cerita selanjutnya akan ku ceritakan di part selanjutnya. Terima kasih..

Pulau Maradapan

Pulau Maradapan di ambil saat Kapal Sanus 57 melintasi bagian utara pulau.