Ini merupakan part terakhir dalam cerita Ekspedisi Nusantara Jaya UGM 2017. Di part ini akan menggambarkan mengenai bagaimana perjuangan pulang kami yang jauh lebih meneggangkan, bosan, hampir mati, tapi seru dan penuh dengan pengalaman.

Oya pada saat pulang tim kami dibagi menjadi 2 tim, tim yang stay lebih lama hingga kapal kembali lagi dan tim yang pulang duluan alias Cuma 3 hari di Maradapan, termasuk aku, Gebs, Citra, Novi, Sandi Sidik, Sandi Kuli, Syauqi, Diana, dan Daniar.

Mancing Cumi di Pulau Matasirih

Kami berangkat pada siang hari setelah meninggalkan pulau Maradapan. Kembali lagi menuju pulau Matasiri yang berjarak sekitar satu jam dari Maradapan. Suasana perjalanan kali ini sama dengan perjalanan kami pada saat berangkat. Ditemani dengan ombak tenang, angina sepoi-sepoi, serta matahari yang sudah mulai menenggalamkan dirinya di ujung barat.

Sejujurnya kami lebih senang diatas kapal karena mandi mudah, bisa tidur siang tanpa takut mati digigit nyamuk, serta stok makanan dan hiburan via vallen yang telah tersedia.

Sampai di Matasiri kami akan bersandar cukup lama hingga jam 10 malam sebelum kapal kembali berangkat menuju pulau Keramaian. Karena waktu sudah menunjukan sore hari kami menikmati sunset diatas kapal ditemani canda tawa ABK yang udah kangen kami serta hangatnya mentari senja.

 

Pemandangan Pulau Maradapan saat Sunset

Pemandangan Pulau Maradapan saat Sunset di atas kapal Sanus 57. Foto di perairan pulau Matasiri

Malamnya aku ikut para ABK mincing cumi dilambung kapal. Kata mereka ini merupakan hobi yang menyenangkan untuk menghilangi stress atau bosen di kapal. Lampu sorot kapal berwat besar kami tembakkan di sisi kapal tempat kami memancing. Tidak sampai 5 menit seluruh ikan-ikan kecil berkumpul dibawah sorot lampu. Nah dari ikan-ikan kecil itulah cumi-cumi datang untuk diburu. Ini kesempatanku dan abk menangkap cumi dengan senar pancing yang sudah dipasangi 5 umpan. Cukup untuk menaikan beberapa cumi dalam satu waktu. Nah karena pada saat itu musim cumi kami mendapatkan cumi cukup banyak bisa mencapai 50 ekor dalam waktu kurang dari 3 jam.

Namun sayang diakhir-akhir yang berburu cumi bukan hanya aku dan ABK, melainkan ikan-ikan predator lainnya seperti hiu atau ikan GT. Tak jarang cumi kami disambar oleh mereka sehingga hanya menarik bagian kepala cumi atau apes-apesnya kami kehilangan kail kami untuk mincing cumi.

Setelah puas nangkap banyak cumi dan memakannya, kami langsung tidur. Mumpung kapal juga belum berangkat dan masih bisa tidur nyenyak. Aku sempat melihat sekilas di arah selatan terdapat awan yang cukup tebal. Kata kapten sih gelombang akan sedikit tinggi.

Bermalam di Keramaian hingga Jalan-jalan ke Pantai Batu Hitam

Selesai menempuh perjalanan Matasiri – Keramian semalaman dan dengan ombak yang sedikit menguncang badan. Akhirnya kami sampai juga di pulau Keramaian dengan cahaya paginya yang bener-bener sejuk. Ternyata pulau ini juga menyimpan keindahan yang masih sangat jarang atau bisa di bilang masih perawan dari media massa.

Main di pulau keramaian

Main hamparan pantai surut yang luas di pulau keramaian.

Kagetnya ternyata yang malam kami tidak sempat melihat garis pantai pulau Keramaian yang terbukus kegelapan, paginya kami melihat pemandangan yang luar biasa. Ternyata garis pantai di Keraimaian sangat Panjang bangkan bisa sampai 1 kilometer. Jika surut hamparan pasir putih dengan sedikit air serta kapal terlihat jelas. Membuat pantai Keramaian pada saat itu terlihat sangat cantik seperti eksotika Maldives. Yang satu ini rela panas-panasan deh buat bisa dapat foto seperti di Maldives.

Siangnya kami diajak ABK dan warga dari Keramaian beserta pak Camatnya untuk menikmati pantai Batu Hitam yang katanya paling bagus di Pulau Keramaian. Kami berangkat menggunakan mobil pick up yang isinya 8 anak ENJ dan ABK. Sampai disana kami disuruh mampir dulu untuk cari kelapa muda dan mengambil bekal makanan yang akan disantap nanti di pantai. Semuanya udah disiapin sama orang Keramaian.

Tim ENJ mampir di salah satu rumah pulau Karamian

Tim ENJ mampir di salah satu rumah pulau Karamian

Sampai di pantai Batu Hitam first impressionku “wah hitam ya, batunya warnanya hitam, karangnya warnanya hitam, tapi bukannya batu warnanya memang hitam ?”. jadi pantai ini memang dipenuhi dengan karang hitam yang sangat luas dengan tumbuhan mangrove. Kebetulan kami disana pas waktu surut, jadi kami kalau mau bisa menyebrang ke pulau kecil diselatan pulau Keramaian. Cuma nggak ada yang berani kesana. takutnya pas pulang air nya udah mulai pasang dan kami terjebak disana.

Dipinggir pulau, diatas batu hitam kami menyantap makanan yang telah disiapkan warga. Gila sih makanannya enak banget, olahan rasanya memang beda. Khas banget rasanya, mungkin ini resep rahasia orang Keramaian. Mana dilengkapi dengan air kelapa muda, hebusan angin dan canda tawa antara tim ENJ, ABK, serta warga membuat suasana waktu itu susah sekali untuk dilupakan.

Pantai Batu Hitam di Pulau Karamian

Pantai Batu Hitam di Pulau Karamian pada saat surut

Hari berikutnya kami berencana melanjutkan perjalanan ke Masalembu ternyata Syahbandar Keramaian melarang kapal untuk berangkat karena cuaca buruk yang bisa menyebabkan tinggi gelombang hingga 3 meter bahkan 4 meter. Untuk alasan keselamatan kami akhirya bermalam di Keramaian.

Ya sorenya kami, ABK, dan warga lokal masih main sepak bola disana. Jadi kata ABK ternyata kalau ada waktu luang mereka turun dari kapal untuk bertemu dengan warga sekaligus melepas penat. Sebagian dari kami juga nyantai juga di Dermaga sambil nyantai-nyantai walau angin kencang. Harapannya kami besok berangkat ke Masalembo.

Kapal Sanus 57 bersandar di Dermaga Pulau Karamian pada malam hari

Kapal Sanus 57 bersandar di Dermaga Pulau Karamian pada malam hari

Terhantam gelombang tinggi selama 4 jam hingga sampai di Masalembo

Akhirnya pagi itu kami berangkat juga ke Masalambo. Sedikit nekat sebenarnya karena gelombang masih cukup tinggi disana. tapi dari pada nggak berangkat dan masih harus menunggu satu hari lagi akhirnya kapten Mei tetap berangkat.

Diawal perjalanan seneng sih rasanya karena akhirnya berangkat. tapi setelah setengah jam kemudian gelombang mulai kerasa. kapal mulai oleng kanan dan ke kiri. rasanya sudah mulai mual aja ni perut. sebelumnya juga sudah diingatkan sama ABK kalau bisa isi makanan dulu sebelum gelombang datang biar nggak kosong-kosong amat perut.

Sayangnya semuanya terlambat, ketika mau bikin popmie diatas, gelombang kencang udah menghatam duluan. perut rasanya udah nggak karu-karuan. mau makan mie yang penuh dengan micin yang enak aja sampai males. akhirnya cuma bisa semedi doang sambil liat gelanggang kapal yang oleng kanan kiri terhantam ombak.

 

 

“Video Kapal Sanus 57 menerjang gelombang tinggi di tengah laut Jawa. Video oleh Djong Iswantoro (ABK Kapal Sanus 57)”Bertahan selama setengah jam akhirnya lambung jebol juga. udah bener-bener nggak kuat ngadepin mualnya, langsung lari kenceng ke pinggir kapal dan semburan naga keluar dari mulut. yap, terjadilah mabuk laut.

Masuk kedalam kafetaria karena lemes, tiba-tiba piring dalam ember yang harusnya dicuci semuanya bergerak kekanan dan kekiri mengikuti goyangan kapal. nggak cuma itu, kulkas, tv, dan magicjar juga ikutan. jadi dalam kondisi mabuk aku lari peluk kultas sama barang-barang disekitarnya agar enggak jatuh. untung ada si Sandi juga disitu yang juga meggangin tv. gitu terus sampai akhirnya nyembur lagi sampai 5x kalau nggak salah. sampai bener-bener yang akhir-akhir itu nggak ada apa-apa yang keluar dari mulut. cuma suara doang. hoek.. hoek.. hoek.. beneran abis tu lambung kaga kesisa apa-apa. gitu terus sampai 3 jam berikutnya. ancur banget pokoknya ancur. tapi seru banget sih. sekali aja deh hahaha.

Sesampainya di Pulau Masalembo yang tenang dan indah, aku dan temen-temen bersyukur banget. apalagi bisa menampakan kaki di dermaga Masalembo yang lautnya biru bening rasanya udah senengnya minta ampun bisa melalui ombak tadi. ya walau di dermaga masih muter rasanya kepala.

Sesampainya Masalembu sih tujuan utamanya langsung Mandi (lagi) biar badan fresh. aku sama temen-temen mandi di Syahbandar pulau Masalembu. disana kami disambut dengan baik oleh pegawai sana dan diijinkan mandi disana. setelah itu kita nyantai di rumah makan dekat pelabuhan sana. oya disana nasi sama cumi gedhe cuma 15 ribu. enak plus murah. sembari itu kita juga liat sekeliling desa di Masalembu. yah pulau yang indah dan tidak seseram cerita orang mengenai pulau tersebut.

Terlebih di Dermaganya aku sama teman-teman foto-foto di dermaga itu karena terlalu cantiknya gradasi warna biru disitu. bener-bener gradasi dari warna pasir putih, biru kehijuan, hingga biru laut jadi pemandangan yang luar biasa. anginnya juga sepoi-sepoi sembari lihat masyarakat yang lalu lalang menaikan barang-barang mereka ke kapal. ada yang pakai becak, mobil, atau motor. mantap banget sih pokoknya disana.

Selfie di Dermaga Pulau Masalembu

Selfie di Dermaga Pulau Masalembu

Cuma kekurangannya satu, pantainya kotor! banget!. Disepanjang garis pantai isinya sampah semua. sampahnya bukan sampah baru, lama semua. bahkan didermaga banyak banget ditemukan kecoa gepeng yang udah jadi mumi. sayang banget pokoknya pantai seindah itu kotor karena sistem pembuangan sampah di pulau itu yang jelek.

Setelah bersandar beberapa lama, sorenya sekitar jam 3 atau 4 sore Sabuk Nusantara 57 siap melanjutkan perjalannanya ke Surabaya. tempat kami akan turun dan destinasi terakhir tim ENJ UGM 2017.

Terombang ambing ditengah lautan Jawa

Kondisi kapal setelah di Masalembu sangat jauh berbeda sebelum sampai dipulau tersebut. Yang sebelumnya isinya cuma 10-20 orang, jadi 200 lebih orang. buanyak banget. bahkan didalam kapal itu isinya sudah kaya pasar terapung berjalan. bau minyak dimana-mana, manusia ada dimana-mana, isinya cuma tidur doang dan kipasan didalam. persis kaya pasar deh. hahahha.

Mungkin karena sudah lelah dengan kegiatan di Masalembu, begitu kapal berjalan kami cuma nyantai-nyantai aja, ngobrol sambil ngecheckin barang-barang sebelum kami balik ke Surabaya besok. Aku sendiri jam 9 malam sudah tidur karena siang tadi sangat melelahkan.

Aku masih ingat tepat jam 12 kurang 15 menit aku terbangun karena panas banget. sumpah gerahnya minta ampun walaupun dekat ac. jadi posisi tidurku itu persis disebelah ruangan mesin yang bunyinya kaya genset listrik besar. tiba-tiba suara mesin menghilang. seketika hening. benar-benar hening. Pada saat itu yang ditempat tidur cuma aku dari ber delapan. temen-temen yang lainnya entah pada kemana. ku pikir sih awalnya kita sampai di tempat persinggahan, cuma ingat kalau Masalembu-Surabaya tidak ada tempat besandar kapal.

Tiba-tiba setelah mesin kapal mati, 5 menit kemudian lampu semuanya mati. gelap gulita, nggak bisa liat apa-apa kecuali denger suara orang-orang yang jumlahnya 200 tadi gelisah dan mempertanyakan apa yang terjadi. selang 5 menit lampu emergency nyala dan beberapa ABK berlarian keruangan mesin. firasatku udah mulai nggak enak nih kenapa. apa yang terjadi sama mesin?

Karena penasaran akhirnya aku ikut ke ruangan mesin. berjaga didepan pintu ruangan mesin sambil pasang kuping untuk dengerin apa yang ABK omongin. denger-denger sih mesin kemasukan air. waaaahhh…. gila nih bisa jadi cerita Titanic Madura ku pikir.

Aku sedikit was-was sih karena setauku penumpangnya banyak dan sedikit overcapacity, jadi takutnya pelampung tidak akan cukup. tapi yasudahlah ku pikir tinggal renang aja ke pulau Madura deket. terus lagipula aku bisa bikin film dokumentasi tenggelamannya nih kapal kalau semisal beneran tenggelam karena kamera pasku bawa dan sudah ku masukin plastik biar nanti nggak kemasukan air. hahaha. planning terabsurd yang pernah ku pikirkan ketika dimoment mati bisa aja sangat dekat.

Ada moment ketika pintu kearah mesin kapal terbuka. aku ikutan ngintip apa yang terjadi di ruangan tersebut. setelah ku lihat-lihat kok tidak ada air sama sekali yang masuk. terus apa yang dimaksud dengan kemasukan air di mesin? karena bingung aku coba tanya ABK tentang maksud air masuk mesin. ternyata kata ABK air masuk mesin itu solarnya tercampur dengan air sehingga sistem emergency mesin mematikan mesinnya agar tidak terjadi apa-apa. terus kata ABKnya bilang juga mesin harus dikuras sampai air dalam mesin hilang. padahal mesinya gedhe banget se mobil bak dan berjumlah 2 mesin. jadi katanya bakalan sampai pagi untuk mengurasnya.

Yah.. karena sudah tau kondisi mesinnya kenapa dan ternyata tidak hal fatal seperti air masuk, jadi bisa dibilang aman. karena aku sendiri ngantuk juga ya aku balik lagi ke kasur bareng sama warga-warga yang tetep santai-santai saja. ya mungkin karena mereka adalah nelayan, jadi terombang ambing di tengah laut sudah biasa.

Rasanya malam itu bener-bener udah pasrah. kaya dimasukin ke dalam satu tong drum, terus dilempar ditengah laut, terombang ambing ombak. suara ombak itu bener-bener kerasa. menghatam dari sisi samping, depan, belakang, atas, bawah. beruntung ombaknya sangat tenang jadi bener-bener seperti di ayun-ayun secara halus oleh lautan. cuaca dalam kamar juga sangat panas, karena AC kapal mati juga, jadi panasnnya minta ampun didalam plus gelap banget karena tidak ada satupun lampu yang menyala. kupikir kalau terjadi apa-apa sudah siap ajalah pokoknya. tidur aja deh, ngantuk juga. baru bisa tidur mungkin jam 2 paginya. pokoknya satu malam itu jadi malam yang sangat berkesan bagiku karena itu luar biasa sekali.

Pagi menyapa, jam 6 pagi mesin masih belum nyala ternyata. aku tanyakan ke kapten kapal katanya masih menunggu beberapa proses sebelum mesin nyala. terus aku ketemu teman-teman akhirnya dan mereka cerita pas kejadian malam tadi mereka semua diluar, jadi emang ninggalin aku tidur sendirian dibawah. jahat memang.

Mereka cerita malam itu mereka juga deg-degan. katanya pas mereka lagi cerita-certita di geladag cari angin karena dibawah panas banget. tiba-tiba mesin mati. mereka langsung berdoa karena ada 3 agama berbeda Hindhu, Kristen, Islam. kata mereka ini pengalaman luar biasa ketika merasa dekat dengan pecipta. bahkan mereka berpikir kalau semisal kapal benaran akan tenggelam mereka tidak akan memperdulikan aku yang masih tidur dibawah. mereka memilih untuk nylametin diri mereka sendiri daripada satu temennya yang mereka tinggalin. Jahat memang, cuma maklumin sih, namanya juga insting bertahan hidup manusia.

Ya kami banyak cerita setelah itu, sama ABK juga yang pada kecapekan ngurus kapal semalaman tidak tidur. apalagi ABK mesin yang bener-bener berjuang agar mesin bisa nyala dengan normal. Kapal kami baru bisa berangkat jam 7 atau 8 pagi. Yang seharusnya jam segitu kami sudah sampai Surabaya, malah jam segitu kami masih di laut utara Madura. ya nggak apa-apalah, namanya juga alangan.

Ketika mau memasuki selat Madura, kami melihat banyak kapal berlabuh. ternyata di utara Madura juga terdapat banyak sekali kilang minyak entah punya perusahaan apa. Banyak kapal-kapal disana yang berlabuh sebelum memasuki pelabuhan Tanjung Perak Surabaya.

Kapal Dewa Ruci melintasi Laut Madura

Kapal Dewa Ruci melintasi Laut Madura

Beruntungnya di awal pintu masuk ke Selat Madura, entah lagi acara apa, semua kapal perang TNI AL keluar dari markas. jadi seperti touring gitu, semua kapal keluar. akhirnya aku berkesempatan lihat 3 kapal selam TNI AL pas lagi beroperasi ditengah laut. kapal-kapal perang seperti KRI-KRI juga keluar semua dan beragam bentuk. beruntungnya lagi kapal idolaku juga bisa terlihat yaitu Dewaruci. wah gila itu kapal keren banget sumpah. wah beruntung banget deh pokoknya.

Kami sampai di Pelabuhan Tanjung Perak, tempat bersandarnya di dekat Surabaya North Quay. sampai di tanah Surabaya rasanya lega banget parah. kita bersandar jam 4 sore kalau tidak salah. tapi kami nunggu sampai sore dulu, kami perpisahan dulu dengan kapten kapal pak Mei dan ABKnya yang sangat baik banget sama kami ketika naik Sanus 57. jadi kita keluar dari pelabuhan sekitar jam 6 magrib mungkin. itu aja kami masih di antar ke terminal sama ABK kapal sanus 57. belum sampai disitu kami di traktir Soto sama mereka. gila nggak paham banget tu orang-orang kenapa baik banget parah.

Tim ENJ UGM 2017 dan ABK Sanus 57 di atas kapal

Tim ENJ UGM 2017 dan ABK Sanus 57 di atas kapal

Setelah kenyang ditraktir soto sama ABK, kami segera naik bus dari terminal di pelabuhan ke terminal kota untuk ganti bis kearah Jogja. kami naik bis Eka kalau tidak salah berangkat jam 9an malam kalau tidak salah. langsung begitu sampai bis tepar semua. ku kira bakal sampai di Jogja pagi jam 4an, ternyata bisnya jauh lebih cepat. jam 3 kurang dikit bis sudah sampai di Klaten. dan aku turun Klaten karena di Jogja nggak ada siapa-siapa dan kebetulan rumah eyang deket sama jalan besar.

Yah.. begitulah cerita mengikuti ENJ tahun 2017. bener-bener ini pengalaman luar biasa sekali, penuh dengan kejutan dan pengalaman. hampir mati berkali-kali. pengalaman gembel, capek, seneng, excited, takut, semuanyalah jadi satu. kita sekitar 3 minggu dan banyak tempat disingahi mulai dari Surabaya, Banyuwangi, Bali, Masalembu, Keramian, Matasiri, Maradapan. pokoknya ini pengalaman singkat yang tidak akan kulupakan nantinya. Terima kasih ya Tuhan telah menginjinkanku berpetualang luar biasa kerennya.

Terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung

Kemenko Maritim, UGM, Seluruh Sponsor.

Tim ENJ UGM

  • Lia
  • Novi
  • Citra
  • Ceaza/Dinar
  • Gabriel
  • Sandi Sidik
  • Sandi Kuli
  • Mas Endro
  • Aam
  • Syauqi
  • Diana
  • Rahmat
  • Qisty
  • Etik
  • Irfan
  • Reezky (Saya sendiri)

ABK kapal Sanus 57 :

  • Pak Mei kapten kapal
  • Ijonk
  • alex
  • siapa aja lupa banyak banget soalnya

Pokoknya terima kasih banyak buat ABK kapal Sanus 57. Kalian luar biasa sekali hanggatnya, ramah, seru, pokoknya kalian da best lah bro. thanks banget..

Warga pulau Maradapan

Pihak-pihak lainnya yang kami temui di Jalan

  • Keluarga Novi yang bersedia menampung gembel seperti kami
  • Mas Joe (Joecandra.com) yang bertahun-tahun tidak berjumpa dan ketemu di Banyuwangi
Tim ENJ UGM 2017 dan ABK Kapal Sanus 57

Tim ENJ UGM 2017 dan ABK Kapal Sanus 57