Oya kebetulan aku bergabung dengan tim KKN NTT-07 2016 yang sekarang adalah keluarga baruku. kami ditempatkan di ujung selatan negeri yaitu di Desa Tebole, kec. Rote Selatan, Pulau Rote. Tanpa listrik, PDAM, sinyal, jalan susah, warung, dan Indomaret. perlu yang diketahui, desa Tebole juga merupakan salah satu desa terselatan negeri. Kebanggaan terbesar bagiku dibandingkan KKN yang lainnya yang mungkin lebih menyengkan adalah bangga bisa mengabdi di ujung selatan negeri.
Dalam postingan ini aku ingin berbagai sedikit mengenai bagamana hari-hariku menjalani kegiatan KKN. this is my shit diary yang ku kerjain setiap kali ada rapat KKN di pondokan atau lagi selo di kamar. enjoy it, i hope you will find an insight in this diary.
Day 0 – First Filght
Day 1 – Touchdown Rote 20 Juni
Sesampainya kami disabut oleh kepala desa tebole. Kemudian setelah sampai kami berkemas dan merapikan pondokan kami. Kami menata untuk membagi ruangan dan sebagainya di pondokan dari pagi hingga malam. Pada sore hari kami disugguhkan kelapa untuk pembuka. Saya sendiri dan teman saya sempat untuk pergi k kantor kecamatan yang dapat ditempuh dengan waktu setengah jam untuk membeli peralatan kebersihan.
Day 2 – Misi Pertama 21 Juni
Day 3 – Daeki Nan Jauh di atas 22 juni
Pagi hari diawali juga dengan rapat sebentar untuk urusan apa yang akan di lakukan di harii tersebut. Kemudian untuk menuju desa daeki dimana desa untuk kelompokku bertugas, maka kami ditemani oleh warga local bernama inggrid. Dia merupakan gadis perempuan beralis cantik kelas 3 smp. Kami menysuri hutan yang cukup lebat untuk memintas jalan. Waktu setengah jam kami tempuh untuk selesai di desa daeki. Melihat keadaan sekitar. Daeki sndri merupakan dusun tertinggi di desa tebole. Kami keliling desa selama 5 jam , panas naik turun waktu puasa. Sungguh ujian yang cukup susah.
Sampai di rumah pondokan setengah 1 siang. Kemudian karena bertugas untuk menyiapkan makanan kkn maka kami juga memasak makanan pada sore hari memakai cara yang tradisionl. Menu buka hari ini pecel gorengan. Ditutup dengan rapat harian untuk evaluasi dan rencana esok pagi.
Day 4 – Mama Su 23 juni
Kami juga sempat mengunjungi petani serta orang lagi cuci baju. Ditambah beberapa rumah warga yang sempat kami datangi untuk melihat situasi kondisi. Akhirnya kami bertemu dengan mama su . mamasu ini ialah warga dusun kopeda, namun sedang berjalan-jalan. Mamasu ini juga importir baju. Salah satunya ialah baju anak jalanan. Gila ternyata dari kemarin anak-anak rote sangat ngefans sekali dengan anak jalanan. Ditambah, besar kecil tua muda nontonnya sintron anak jalanan.
Bertemu mamasu kami banyak berbincang, tetapi, kami malah di ajak ke pantai. Gila aja, panas-panas malah di ajak ke pantai. Karena tidak ada yang menolak dan juga penasaran akhirnya kami bertekat untuk tetap kepantai. Ternyata diluar dugaan, jauhhh… dusun deaki berada di atas gunung sedangkan pantai di titik terendah. Kami harus turun cukup jauh di bawah teriknya matahari pada saat puasa. Pantainya memang menyenangkan Cuma ya hausnya parah.
Diperjalanan balik ke daeki yang sungguh panas dan melelahkan, akhirnya merasakan mulai tumbang. Bahkan untuk berbicara saja susah. Panas terik kulit justru tidak ada keringat sekali. Keringat dingin serta pusing. Sesampainya didaeki kami membagi 6 orang untuk menjadi 2 tim karena 2 cewe yang ikut kelompok kami drop total plus aku. Jadi kami bertiga memutuskan untuk blik terlebih dahulu melalui hutan. Untungnya sebelum masuk kami bertemu teman kami yang habis dari kota untuk mebeli keperluan. Yaa untung kami pulang dengan motor.
Sesampainya pondokan kami bertiga langsung terkapar bebas dan langsung beristirahat. Sore dan malamnya nya menyiapkan makanan. Diselingi untuk memperliahtkan film transformer dengan anak” rote. Sejak aku menulis ini, anak-anak masih sibuk bermain srigala”an dengan kartu remi.
Day 5 – Jumat Mantap 24 Juni
Dan hari ini, dalam sepanjang sejarah hidupku mencuci pakian di sungai. Airnya segar banget, ada beberapa ikan kecil yang mengigiti kakiku ketika sedang mencuci. Ditambah rimbunnya dedaunan dan kesejukan alam yang tidak akan ditemukan di kota atau jawa sekalipun.
Day 6 – Festival Bhayangkara 25 Juni
Sebelumnya kami dikabari untuk sudah standby pada pukul 10.00, akan tetapi ternyata polisinya datang sekitar jam setengah 2. Cukup lama memang, kami bahkan sempat berpikir bahwa polisinya PHP. Kami berangkaty dengan mengunakan dua mobil alias oto. Sampai di kota sekitar jam 3 sore, maklum. Jarak antara desa tebole dengan ba’a sekitar 2 jam jika ditempuh dengan menggunakan mobil.
Sesampainya di ba’a kami segera mengikuti festival. Cukup banyak memang yang hadir dalam acara tersebut. Dari berbagai penjuru pulau rote hampir semua hadir. Beberapa pentas dari masing-masing daerah bertema polisi juga dip[ertunjukan.
Namun yang membuat bahagia ialah pada saat berbuka puasa karena khalayan yang sering dikhalayan kan ketika dipondokan menjdi kenyataan. puasa karena khalayan yang sering dikhalayan kan ketika dipondokan menjdi kenyataan. Kami berbuka dengan es blewah pink, gorengan, dan donat di masjid ba’a. makanan yang tidak pernah kami makan selama kkn ini. Setelah acara itu selesai kami juga menyatap soto di pinggir lapangan ba’a. rasanya itu adalah malam minggu terindah selepas berangkat kkn. Ditambah kami diberikan roti terenak di Rote oleh bapak-bapak polisi. Nikmat tuhan mana yang kamu dustakan.
Kami pulang pada pukul 20.00 dan sampai di pondokan sekitar 21.30. tidur, karena lelah dan bahagia.
Day 7 – Mendaki Daeki 26 Juni
Kegiatan Pagi hari hanya membaca buku serta bermain kartu. Baru menjelang siang hari kami lanjut untuk melalukan survey untuk pendalaman masalah. Target kami adalah rumah teratas. Maka dari itu kami dibantu menggunakan motor agar lebih mudah untuk mencapai titik teratas. Kalua jalan kaki sampai diatas, yakin deh batal puasa lagi. Sepulang dari berkunjung kai diberi sayur yang sangat jarang sekali ditemukan yaitu daun ketela dan papaya.
Malamnya sih buka puasa cukup enak juga, pakai sarden dan telur serta sawi putih. Setelah itu dilanjutkan dengan menonton motoGP. Ternyata satu pelajaran yang gw petik disini ialah nonton tv itu enak apalagi bareng-bareng. Maklumlah, disini hiburannya ialah tv. Itu saja bisa menyala mulai jam 6 malam hanya saat menonton sinetron Anak Jalanan.
Day 8 – Pesta Pesta 27 Juni
Pagi ini juga setelah bangun tidur diawali dengan cuci baju di sungai. Berbeda dengan kondisi sebelumnya yang tenang-tenang saja, cuci baju kali diwarnai dengan serangan dari battalion komandan IV yang menerjukan pasukan elit khusus untuk menyerang kami. Mereka datang dari hutan secara tiba-tiba dengan pedang dimulutnya dan tajam-tajam. Nyamuk disini memang ganas minta ampun. Bahkan setelah membunuh lebih dari 20an nyamuk mereka masih saja datang.
Siangnya Cuma diisi dengan rapat sub unit. Disambung dengan memasak untuk berbuka puiasa. Malamnya sih rapat kelompok untuk merencanakan apa yang akan di lakukan di minggu kedua desa Tebole.
Malamnya kami diajak untuk bergabung untuk berpesta di persiapan pernikahan anak kepala desa. Rame sekali. Bahkan dari berbagai dusun datang untuk mengikuti pesta yang sedang diadakan. Jangan bayangkan pesta pra pernihakan seperti yang dikota dengan berbagai lampu dan hidangan yang mewah. Pesta disini cukup dengan satu sound sistem serta satu lampu untuk mengingi pesta. Lagu yang putar juga lagu-lagu daerah rote. Masyarakat sini justru tidak menyukai lagu dangdut koplo seperti apa yang di Jawa. Terlebih lagu EDM. Bakalan tidak ada deh di jamin.
Day 9 – Angin Pujaan Hujan 28 Juni
Pagi hingga siang hari memang workless sih. Tidak ada kegiatan yang berarti kecuali mandi tidur mendengarkan music serta bermain dengan anak-anak desa. Ada dua orang berangkat juga ke rote timur untuk mencari kitab suci. Bukan, mencari ikan. Baliknya juga hari rabu sih.
Sorenya jalan-jalan lagi ke Daeki. Namun kali ini tidak lewat jalur hutan tetapi jalur selatan. Secara harfiah emang lebih jauh dibandingkan jalur hutan sih, Cuma target rumah kami kali ini juga lebih menjorok kea rah sealatan daripada utara. Bertemu dengan bapak Cristian Taka. Beliau pandai banget bermain Sasando. Alat music tradisional asal Rote yang telah dikenal di ruang lingkup Nasional. Suara khas banget, hampir mirip dengan alat music asal cina, Cuma lupa namanya apa. Dua lagu dinyanyikan. Nikmat deh pokoknya. Selanjutnya kami melanjutkan perjalanan untuk bertemu dengan Mama Ledok. Akan tetapi malah ketemua tiga diva mama mama yaitu mama Rahel, Mama Toni, Mama Yatni. Mama Reahel ini udah kaya toko semar berjalan. Emas nya nempel dimana-mana. Umurnya padahal mungkin sudah mencapai sekitar 50 tahun, tapi masih pakai bedak. Jadi wajahnya bedakan gitu. Tahulah mirip siapa.
Balik dari Daeki cukup sore menjelang mau magrib. Mampir dulu sih ke spot sinyal buat cari kabar mengenai adik apakah keterima di SBMPTN. Namun sayang berbeda nasib denganku, dia belum diterima di PTN. Tapi aku optimis dia diterima di vokasi UGM. Aamiin..
Satu informasi yang jkudapatkan ketika bercakap dengan bapak Martin selaku pemilik rumah ialah warna biru dan hijau di desa Tebole terbalik. Jadi daun yang biasanya berwarna hijau, orang Tebole menyebutkan warna daun biru. Begitu pula langit yang seharusnya berwarna biru menjadi langit hijau.
Day 10 – Kutukan Ikan 29 juni
Day 11 – Survei Daeki Lagi 30 Juni
Jam 9 pagi kami langsung berangkat di mama Ledok. Karena di rumahnya mama ledok tidak ada di rumah makanya kami langsung pergi ke ladang. Ladangnya sih tidak begitu jauh sebneranya. Sekitar 10 menit apabila jalan kaki. Kebetulan sekali pada musim ini sedang ditanami bawang. Jadi kebunnya penuh dengan bawang. Aku dan teman-teman sempat mencoba untuk mencoba menyirami tanaman bawang dengan dua ember yang di pangku dalam sebuah kayu yang melintang di bahu. Kalua dilihat-lihat sih keliatan mudah, tapi setalah di coba ternyata beratnya minta ampun. Untuk menyeimbangkannya susah minta ampun. kalau sampai kebaratan belakang akan tumpah. Jadi buth skillfull tinggi untuk menyeimbangkannya dan itu harus disirami seluruh ladang. Mungkin butuh waktu berjam-jam untuk menyiraminya. sempat juga bermain anak-anak untuk bernyanyi lagu nasional dan lagu-lagu anak-anak di bawah gubug pinggir sawah. Syahdu..
Setelah siang kami segera menuju ke rumah mama ledok untuk bertanya-tanya mengenai pendidikan di SD. Karena rada capek dan silir-silir gitu ya akhirnya merasa sedikit ngantuk sewaktu berkunjung. Namun setelah selesai kami justru diberikan hadiah ayam jago untuk dimasak. Pikirku gila juga berkunjung di kasih ayam. Hal yang langka banget kalau di Jawa. Aku jadi berpuikir kalau berkunjung beberapa kali mungkin bakalan di kasih Sapi. Pokoknya intinya sering-sering main deh. Karena prinsip wagra sini ialah barter karena mereka masih satu keluarga besar.
Sesampainya pondokan kami bingung mau diapakan ayamnya karena butuh waktu lama untuk mengolahnya. Yaudah akhirnya kami taruh di dapur sebagai bahan simpanan untuk membuat sop ayam mungkin.
Berbuka hari ini juga cukup menyenangkan. Kami berbuka dengan cha sayur macam-macam serta sang juara terong crispy. Sungguh nikmat yang luar biasa. Malamnya ditutup dengan rapat koordinasi untuk hari esok karena esok kami akan pergi ke Ba’a.
Day 12 – Pesta Bhayangkara 1 Juli
Paginya sih kami hanya melakukan persiapan untuk berangkat ke kota. Sabagian orang juga belanja ke Pasar Jumat buat beli bahan makanan selama seminggu. Oto ke kota jemput kami sekitar jam 11 siang. Cukup mepet emang untuk berangkat di kota Ba’a yang jaraknya sekitar 1 setengah jam dari desa Tebole. Tapi karena sopir menyanggupi ya akhirnya kami berangkat. Jalannya cukup ekstrim memang. Cuma ya kami menikmatinya. Sesampainya di kota Ba’a, ban Oto kami malah bocor. Mungkin karena ketembus paku. Hebatnya, sopri otonya bisa mengganti ban hanya dalam waktu yang singkat. Udah kaya F1 masuk pit stop lah. Sampai di masjid sholat jumat udah mulai. Untungnya sih kami hanya ketinggalan satu rekaat saja. Setelah itu dari siang sampai sore kami hanya berdiam diri di masjid dan mainan gadget.
Buka nya nikmat banget, berbuka dengan es blewah pink kesayangan dengan berbagai cemilan takjil yang disediakan oleh masjid. Bahkan setelah magrib selesai, teman kami membawakan batagor yang dinobatkan terenak di pulau Rote. Setelah makan Batagor aku sama temen jalan buat makan nasi padang. Satu-satunya warung padang yang bisa ditemukan di Rote. Rasanya sih khas Rote. Makan nasi Rendang juga. Sungguh buka yang nikmat.
Setelah itu dari jam 7 sampai jam 8 sempat menelfon sahabat upil satu itu yang barub balik dari Jakarta. Kalau nelfon sama satu orang ni lama banget deh. Keponya minta ampun. Nah dari jam 8 kami pergi ke polres Rote. Gedung polresnya penuh dengan corak kain khas Rote. Berbeda banget dengan gedung-gedung lainnya.
Acaranya sih dimulai dari hiburan dan doorprize. Lumayanlah kami dapat uang 500rb,. 2 kipas angin, 1 dispenser, dan 1 helm. Plus di kasih makan dengan dalamnya isi daging sapid an ayam kesayangan. Sungguh nikmat kkn apa lagi yang kamu dustakan. Setelah itu jam 11 malam kami di ajak untuk menjoget ala rote. Berdaansa dengan tarian tradisional. Seru deh pokoknya. Tapi gak enaknya kami malah masuk angin. Lha mau gimana, kami menarin sampai keringat netes-netes, diluar angina sedang kenceng dan dingin. Baliknya kami juga ikut di bak terbuka. Mau gak masuk angin gimana.
Tapi untungan jam 9 malam WITA, aku dapat kabar kalau adikku Bagas di terima di SV Manajemen UGM. Ya bersyukur banget. Terlebih adikku yang paling kecil diterima di SMA terfavorit se Klaten, SMAN 1 Klaten. Rasanya aku bangga banget sama kedua adikku.
Jam 1 malam kami sampai di rumah dinas kasat lantas. Lama ga dipaki sih sepertinya, yang penting bisa tidurlah. Baru bisa tidur jam 2an.
Day 13 – HUT ROTE 2 Juli
Sampai di lapangan Ba’a kami segera ikut upacara. Rasanya kami merasa kalau udah lama banget kaga ikutan upacara bendera. Mungkin terakhir kali pas Palapa waktu masuk UGMlah. Upacaranya lama banget. Dari jam 8an selesai jam 11an. Yang ngisi pidato lebih dari setengh jam lah. Setelah itu dilanjut acara di auditorium untuk syukuran. Berdoa dengan ala Kristen. Ya alhasil aku malah tidur aja selama acara berlangsung. Selesai acara itu yang datang di acara tersebut kami diberi makan daging. Enak banget dilihatnya, sayangnya karena puasa ya gak makan deh.
Setelah itu kami segera menuju balik rumah Kapolres Rote. Rumahnya sederhana, Cuma terlihat mewah sekali dengan listrik, TV berlangganan, Sofa, Sinyal, dan Kran Air. Nonton Interstellar dari jam 2 sampai jam 5. Mantap dah pokoknya.
Buka puasa di rumah bapak Kapolres juga mantap. Es doger dengan berbagai isi, ikan bakar, bawan goreng, tahu goreng, kurma, ayam manis, dan berbagai makanan mantap lainnya. Sungguh ini buka terenak mungkin sepanjang KKN. Kami sampai gak bisa makan lagi padahal habis ini masih harus makan di rumah dinas bupati. Sungguh nikmat sekali malam minggu kedua KKN ini.
Lanjut ke rumah dinas Bupati. Kami langsung disambut bupati dan diajak untuk menari tradisional ala Rote. Seru bangetlah, kami harus menari ala safel dan memilih siapa yang harus menari berikutnya. Setelah acara itu selesai kami langsung makan. As ussual makan pakai daging ayam dan sate sapi. Habus makan itu di kasih STMJ ( sophie telur Madu Jahe ). Gila alkoholnya tinggi. Udah deh kaga coba-coba gituan. Setelah itu sempat juga telfon sama sohib Surabaya. Mayan ngobrolnya sejaman lebih deh. Setelah itu udah pada tepar karena kecapekan dari acara kemarin juga, maka udah pada gak punya tenaga. kami juga justru disuruh untuk menari lagi dan bernyanyi. Tenaga abis tapi suruh joget sama bupati. Ya show till die lah.
Kelar-kelar kami langsung balik ke Desa Tebole dengan menggunakan dua truck. Gila jam setengah 1 malam kami balik ke pelosok desa lagi dengan truck bak terbuka. Udah pada kedinginan banget. Pokoknya penampilannya udah kaya TKI illegal dibawa pakai truck gitulah. Perjalanannya cukup lama. Sesampai di pondokan kami sampai jam 2 malam. Aku sendiri juga mual banget lebih dari apapun. Badan rasanya tinggal separo. Jadi aku sampai rumah pondokan langsung tidur. Dah gak peduli lagi sama sahur.
Day 14 – Tepar Badan 3 Juli
Jam 7 pagi kami berangkat lagi via jalan kaki lewat hutan agar lebih cepat sampainya ke dusun Daeki. Sebenarnya jalan ini cukup menyebalkan karena lebih lawan tersesat dan digigit nyamuk. Nyamuk hutan selalu lebih ganas daripada nyamuk selokan.
Sampai di desa kami pada pukul 08.00 WITA. Ternyata gereja baru dimulai pada 09.00. jadi aku sendiri sempatkan untuk tidur di aspal untuk menikmatinya. Setelah jam 9 gereja segera memulai acara kebaktiannya. Karena waktu itu udah ngantuk banget, maka aku langsung saja tidur setelah duduk di kursi. Lagian aku tidak mengerti juga acaranya bakalan ngapain, pertama kalinya ikut acara gereja juga. di akhir acara gereja kami juga dikenalkan serta perkenalan diri kepada masyarakat dusun daeki. Timming yang tepat karena suluruh warga dusun pada berkumpul.
Selesai dari desa kami kembali lagi via jalan hutan karena lebih cepat sampai dibandingkan lewat jalur aspal. Kali ini sih kebanyakan mblasuknya karena pertama kalinya pulang lewat jalur hutan. Jadi membutuhkan waktu sedikit lebih lama daripada sebelumnya ketika pulang.
Sampai di pondokan langsung siapakan sleeping bag dan Tarik selimut terus tidur. Mau gimana lagi, badan udah di batas deh. Tidur jam 12 siang, bangun-bangun langsung jam 5 sore. Wah gila lama amat dah tidurnya. Cuma gak apa-apa. Etung-etung bangun tidur langsung buka.
Kegiatan malam hari sih kami sempatkan untuk rapat menyusun kegiatan minggu ini. Rapat kali ini seperti biasa cukup lama. Lalu setelah rapat disambung rapat dengan memakan mie. Baru bisa tidur jam 12an.
Day 15 – First Meet 4 Juli
Jadwal hari ini kami akan rapat koordinasi dengan kepala desa terkait dengan program yang akan kami jalankan hingga hari kepulangan kami besok. Setelah itu siang hari kami juga akan bertemu dengan anak-anak dusun Daeki untuk berkenalan.
Sempat sih tidur sejam tadi sebelum keberangkatan ke Daeki. setelah itu segera kami ke Daeki via hutan belantara lagi. Sampai di Daeki jam stengah 2 siang. Langsung cari spot sinyal terlebih dahulu baru deh ketemu anak-anak. Siang ini cukup seru juga, kami bermain berbagai jenis permainan dengan anak-anak. Kami juga melatih untuk bernyanyi lagu nasional serta lagu-lagu permainan. Selesai dengan anak-anak jam 4 sore.
Nah pas mau balik nih malah perut bermasalah. Sempat merasakan mulas yang tidak biasa. Mau gak mau kan harus cari tempat buat jongkok. Masalahnya di desa ini gak semua rumah punya jambannya masing-masing. Mana jalannya naik turun kan. Udah deh di ambang batas pokoknya. Mentok di ujung. Tetapi untungnya menemukan satu rumah yang punya jamban. Perut mules kali ini berhasil disegel.
Setelah itu sore ini kami segera kembali ke Pondokan via hutan. Regu ketambahan satu anak kecil namanya Keiza. Dia mungkin masih sekitar kelas 3 atau 4 SD. Badannya kecil. Gadis ini ikut dengan kami dalam perjalanan pulang. Bahkan dia juga yang memimpin kami untuk melewati hutan. Tanpa rasa takut sedikitpun dia terus jalan. Gila gak ada habisnya tenaganya. Kami aja yang gedhe-gedhe udah terengah-engah nafasnya, ia masih terus aja jalan gak berhenti. Dia juga memberikan jalan baru yang tak pernah kami lewati sebelumnya. Sesampainya di ujung kami di kejutkan dengan suara “Ma, aku pulang”. Wah ini nih. Ternyata ia menuntun kami untuk kembali kerumahnya bukan kembali ke pondokan. Padahal jarak rumahnya jauh di utara pondokan kami. Waduh kena lagi dah. Di kibulin. Capek rasanya. Muter jalan ke utara eh tau-tau bukan sejalan. Cuma gak apa-apa, etung-etung ngamal. Ditambah kami juga diberi jeruk nipis sama mamanya keiza. Mayan.
Sampai dipodokan langsung terkapar. Untungnya gak jauh sama waktu buka. Jadi ya cepat-capat makan sama minum. Malamnya sempatkan untuk mengisi air minum di mata air bapak desa sambal curhat siapa demenenannya di kelompok KKN. Cialah.. setelah itu dilanjutkan cuci piring sama ngisi laporan I1. Hari ini ditutup dengan main Skyrim. Mayan kelarin 2 misi. Habis itu tidur. Besok paginya kami akan berangkat ke Lanal. Markas TNI AL ujung selatan Indonesia !
Day 16 - Lanal 5 Juli
“Cok tolong cok.. woi !” sambal teriak-teriak sampai anak-anak semua nya bangun. Ya kaget kan ya kenapa pagi-pagi bisa teriak gitu. Aku sendiri langsung menuju keluar bnuat ngechek keadaan. Mas Bayu sudah posisi ala binaragawan mengangakat barbel dengan tangan keatas dan kuliat mukanya tegang banget.
“jancok ada kelabang di dalam baju, kelabang besar !” teriak muka teggang.
Langsung mas bayu di bawa keluar. Sebagian orang menemani untuk prosesi ritual pengeluar kelabang menggunakan gutik darii dauh kelapa. Karena gak keluar-keluar mas Bayu udah semakin teggang. Kami menyuruhnya untuk merasakan letak kelabang itu didalam bajunya. Ngeri soalnya kalau sampai gigit. Racunnya bahaya.
Tiba-tiba mas Bayu merasakan kalau kelabangnya berada dalam celana. Nah ! langsung saat itu juga salah seorang teman langsung menurunkan celana mas Bayu didepan teras rumah. Setelah turun mas Bayu hanya menggunakan celana dalam bak tarsan. Saat itu juga kelabang keluar dari celananya dan langsung di bumi hanguskan dengan mengunakan tongkat sakti. Kejadian itu membuat semua orang tertawa lepas pagi itu. Yah, epic moment in this monthlah.
Kami di janjikan untuk berangkat jam 12 menuju ke Lanal. Akan tetapi kembali lagi, kami di PHP kesekian kali oleh pemerintah. Setelah di telusuri dari PHP-PHP sebelumnya kami memahami bahwa kalau jam janjian Rote Ndao itu berbeda. Jadi kalau kamu lagi di Rote Ndao di janjikan untuk di jemput jam 12, maka jam 12 itu sebenarnya ialah waktu yang mau jemput berangkat dari asal usulnya.
Akhirnya di jemput jam 4 sore !. yaaaa… pasrah dah. Berangkat dari pondokan jam 5. Jadi kami berbuka puasa terakhir di truck militer TNI AL. pengalaman baru banget dah sumpah. Trucknya juga memiliki daya goncangan yang sungguh kenceng. Kalau sekala gempa ya lebih dari 9SR. perjalanan kami ditempuh dalam waktu 2,5 jam ke Lanal. Mana aku kan di bagian paling belakang. Nah bagian belakang itu bau solarnya kerasa banget. Turun-turun mabok solar dan goncangan. Rasanya pusing dan mual selama beberapa jam. Ancur dah pokoknya.
Day 17 – Lebaran di Selatan Negeri 6 Juli
Kami sholat idul fitri di masjid dekat markas TNI AL. baru kali ini merasakan juga untuk lebaran di kampung orang, bahkan pulau orang. Di pulau Rote sendiri mayoritas disini agamanya ialah Kristen. Jadi, aku sendiri sama sekali gak merasakan bagaimana rasanya jadi minoritas di tempat. Mudik, baju mewah, orang kesana kesini, opor ayam, makanan banyak, sama sekali gak ditemukan disini. Saat sholad ied aja Jemaah yang datang justru lebih banyak waktu sholat jumat di rumah.
Setelah dari masjid kami sempat pergi ke pasar untuk membeli bahan demi opor ayam dan pecel bayam untuk lebaran. Pasar di Rote yang jual sebenarnya tidak sekomplit di Jawa. Bahkan sayurannya mungkin hanya di temukan tidak sampai 10 jenis. Ada tomat, jeruk nipis, sawi, wortel, cabai, atau daun ketela. Aku sendiri sih mengincar cari sarapan karena lapar nya minta ampun. Ya akhirnya aku dan temanku berhasil mendapatkan mi instant plus bakso. Masaknya juga lucu nih. Jadi bngkus bagian atas di sobek, bumbunya diambil, terus di tuang air panas sehingga minya di masak dalam bungkusnya. Cara unik untuk memasak, tapi gak mateng. Cuma makan aja dah. Lapar..
Lanjut untuk kembali ke markas TNI AL untuk memasak Opor. Cuma ya sempetin lah untuk menelfon keluarga di rumah. Di Lanal sendiri kami menemukan suatu spot yang luar biasa sekali. Kamu bisa memandang dari ujung barat hingga tikur lautan. Lihatnya juga dari atas bukit Jadi so wonderfull view dah.
Cukup selesai menikmati view, kami segera makan opor ayam. Menunggu opor ayam masuk ke usus halus, nonton tv dulu lah. Mana TV berlangganan lagi. Pokoknya terjamin dah. Sorenya kami segera berangkat ke markas besarnya untuk bersilaturahmi dengan tentara AL yang masih tinggal di markas plus foto ala lebaran dengan tim KKN 07. Kami juga di ajak ke spot terbaik di Lanal ya itu di ujung tanjung Lanal yang superrrr mantappp. Viewnya luar biasa sekali. Bahkan sunsetnya keren dah. Di spot itu kamu bisa melihat sunset serta sunrise. Awesome wonderfull.
Karaoke menjadi pentutup sunset kami hingga larut malam. Ya lumayan lah buat menghibur diri dengan sangat menyenangkan. Mana sinyal di situ juga full banget deh. Jadi bisa juga videocall dengan lancar sama keluarga. Sampai di tempat tidur aku sendiri langsung terkapar kecapekan dan tidur karena kami harus kembali ke Tebole jam 7 pagi.
Day 18 - Kelas Pertama di Lebaran Kedua 7 Juli
Sampainya di Tebole sekitar jam 1 siang. Kami harus segera menyiapkan diri untuk berangkat ke Daeki demi mengajar anak-anak. Rasanya gak ada istirahatnyalah. kami kembali lagi berjalanan menelusuri hutan. Sampai dii Gereja untuk bertemu dengan anak-anak jam 2.15. sedikit terlambat. Anak-anak juga sudah pada datang juga.
Kelas kali ini materinya ialah MATEMATIKA. Materinya cukup ringan sekali yaitu tambah, kali, minus. Cukup ringan untuk anak sd terlebih anak SMP. Namun ternyata, faktanya anak-anak di desa tebole masih lemah dalam matematika. SMP kelas satu yang seharusnya sudah mulai di ajarkan aljabar, pembagian saja masih belum begitu paham. Selain itu, kecepatan dalam perkalian juga masih lemah. Anak SD saja yang telah masuk kelas 3 masih kesusahan untuk membaca dan menulis. Anak-anak disini juga cenderung pasif dalam berinteraksi, terutama dengan orang luar. Mereka sangat malu untuk bertemu. Bahkan dalam dunia pendidikan atau di sekolah mereka juga jarang memiliki feedback yang baik dengan guru. Metode pembelajaran mungkin masih satu arah.
Mea, salah satu anak kecil yang aku temui ketika mengajar di dusun Daeki ia masih susah sekali untuk menulis huruf atau mengenalinya. Bahkan angka 7 saja masih terbalik seperti huruf F. anak ini juga masih kesusahan dalam soal matemika walau hanya sekedar soal 2+3.
Dari pengalaman ini aku melihat secara langsung bagaimana sebenarnya ketimpangan pendidikan yang terjadi antara Indonesia bagian barat dengan bagian timur terutama bagi yang tinggal di bagian kepulauan seperti pulau Rote. Padahal jumlah pulau-pulau kecil yang berpenghuni di daerah timur sangat banyak yang susah untuk di akses. Ini jadi PR bangsa ini untuk melakukan pemerataan pendidikan atau penyebaran tenaga SDM cerdas keseluruh pelosok negeri.
Malamnya… kami melakukan TOT alias truth or truth. Permainan ini memungkinkan kamu untuk memahami aib orang dengan secara jelas dan mudah. TOT kali ini hanya di lakukan kaum cowok saja. Semuanya ikut bahkan sampai yang alim-alim. 15 pertanyaan absurd yang berbau busuk hingga sensual di tanyakan dan harus menjawab jelas. Semua cowok juga tau jawaban dari orang karena jawaban yang ditulis di atas kertas kecil di putarkan dan wajib untuk di baca dan dipahami satu sama lain. Nama termasuk dalam secarik kertas tersebut. Salah satu pertanyaan yang cukup frontal ialah “ kamu pernah peggang susu wanita ? bagaimana rasanya ?”. kami harus menjawabnya secara baik dan benar tanpa ada kebohongan di antara kita. Jujur sendiri geli jawabnya, bahkan tangan ku sampai merinding untuk menulisnya. Pokoknya itu dimulai dari jam stengah 10 dan selesai pada pukul 1 malam. Penuh dengan tawa kebahagiaan dah setelah mengetahui aib orang. Bahkan kami juga mengerti siapa wanita dalam tim KKN yang disukai. Semua menjawab dan juga mehami siapa saingan dalam tim KKN tersebut. Masa bodoh juga yang diincar punya pacar atau belum. Pokoknya buat kamu yang ingin makrab paling seru, cara ini menjadi rekomendasi paling mutahir.
Day 19 – Akhirnya Sarapan Lagi 8 Juli
Setelah itu aku beserta temanku Yoga pergi menggunakan motor untuk menuju keujung Daeki demi dokumentasi desa Tebole. Cukup susah sih. Pertama cuaca sedang tidak baik sehingga langitnya tidak sebiru biasanya. Kedua faktornya ialah lagi ada pesta, jadi cari moment dimana gak ada orangnya susah. Ketiga posisi nya aku sama yoga sedang kurang tidur jadi rasanya capek sekali untuk mengambil gambar di pucuk gunung. Mana pas pulang tas Polo kesayangan ku rusak lagi.
Sampai jam 1 siang kemudian meletakkan seluruh badan di tikar. Baru 5 menit tertidur pulas aku di bangunkan temen untuk segera mengajar anak-anak di gereja Daeki yang letaknya di atas gunung. Ya perjuanganlah ya. Materi hari ini lebih kebahasa. Jadi kami membagi dua kelompok yaitu yang kelas 4 kebawah dan kelas 5 keatas sampai SMP untuk mempermudahkan pengajaran karena setiap orang memiliki bahan yang berbeda. Kelas 4 kebawah di beri cerita kemudiahan di kasih pertanyaan seputar cerita dongengnya. Kemduain kelas 5 keatas menulis mengarang mengenai keluarga.
Selesainya sih sekitar jam 4 kemudian segera ke bawah untuk melihat tim sepak bola bermain bola. Bukannya melihat aku malah asyik menelfon keluarga di rumah. Ya mau gimana lagi, rindu sama mamake.
Sampai di pondokan sih sekitar jam stengah 6. Para pria lanjut memasak ikan, sayur, dan nasi ditambah dengan membenai saluran air yang tidak mengalir karena perbaikan saluran air. Malamnya sih kembali lagi, curhat pribadi mengenai perasaan. Yuhuu..
Day 20 – Cucian Petaka 9 Juli
Pagi ini bangun cukup pagi. Jam 6 kami sudah bangun karena kelas harian hari ini dimulai dari jam 8 pagi. Jadi jam setengah 8 kami harus segera meninggalkan dan masuk hutan untuk berangkat ke Dusun Daeki. seperti tebakan ku, anak-anak juga belum semuanya bangun. Jadi ya kami memulainya pas jam setengah 9. Hari ini juga kebanyak yang yaitu para dedek cantik. Materinya juga cukup menyenangkan untuk kelas hari ini. Materinya ialah mimpi beta dan jelajah nusantara. Mimpi beta sendiri anak-anak di suruh untuk membicarakan mengenai impian. Mereka disuruh mengambar impian mereka seperti apa. Seperti yang diduga, mereka juga susah dalam menggambar bahkan untuk anak SMP sekipun. Untuk Jelajah nusantara sendiri anak-anak di ajari menari tarian Bali. Mereka juga masih susah dalam mengerakkan badan mereka. Jangankan mereka, kami saja yang sudah anak kuliah juga susah sebenarnya untuk menari bali. Cuma sebenarnya yang diajarkan juga teori mendasar soal tarian.
Kami balik dari mengajar sekitar jam 12an. Bukan melewati hutan tetapi lewat jalan biasa yang hampir 3 kali lipat lebih capek, panas, dan jauh. Tim super one Daeki juga sempat untuk mampir ke rumah mama Ledok untuk membicarakan soal bagaimana cara mendidik yang baik. Hasilnya, kami akan melewati jalan biasa dan menghindari melewati jalan hutan agar lebih dapat bersosialisasi dengan warga dan mengajak anak-anak untuk ikut kelas.
Sampai di pondokan langsung Tarik selimut dan terkapar hingga jam setengah 4. Capek banget rasanya. Bangun-bangun juga langsung mandi dan cuci pakian kemarin. Habis itu makan malam. Menunya juga enak. Kami makan dengan cakar ayam serta kepala ayam. Kedua benda yang sangat mengiurkan dan di anggap mewah itu di beri Cuma-Cuma oleh warga Pati yang berjualan nasi Kuning di Ba’a yang kemarin kami borong nasinya ketika sarapan. Fakta uniknya ternyata warga rote tidak suka memakan kepala ayam dan cakar ayam. Alasanya kenapa belum tau juga. ini masih menjadi sebuah misteri.
Petakanya muncul ketika ternyata hari ini super one Daekilah yang kejatahan untuk mencuci semua perlengkapan memasak hingga makan. Hebatnya, jumlah peralatan masak yang digunakan hampir semua alat masak. Parahnya, karena hari ini masak ayam kecap yang notabenya memiliki kadar minyak yang super banyaknya jadi perlu ekstra waktu dan tenaga untuk membersihkannya. Tukang eksekusinya sendiri ialah 4 orang cowok gantlemen yang enggak homo dari Superoone Daeki. sejujurnya kami mencuci dengan emosi karena banyaknya alat masak dan banyaknya minyak yang menempel. Bahkan ketebalannya saja udah setebel kulit badak. Harus di kasih mama Lime dan di gosok lebih dari 3 kali baru hilang. Alhasil kami mencuci dari jam 7 kurang 15 selesai pada jam 9 malam waktu Indonesia bagian dapur.
Day 21 – Upload dan Lelah 10 Juli
Siangnya setelah pulang, dapat kerjaan untuk membantu anak-anak agro membuat lahan untuk tanaman obat. Lumayan lah buat ngisi JKEM demi KKN yang lebih baik. Aku mendapat insight mengenai kebahagian para petani. Jadi kebahagian mereka ialah ketika kamu sedang lelah mengurusi lahan untuk kehidupan orang banyak, ada istri yang datang untuk membawakan atau membuatkan teh dan cemilan untukmu. Sungguh. Itu kebahagian tersendiri. Pengerjaannya cukup singkat, dari jam setengah 12 dan selesai jam 1 siang.
Belum sempat beristrihat aku dan tim super one Daeki meluncur ke tempat untuk mengajari anak-anak permainan tradisoinal. Permain itu membawaku pada masa kecil yang sangat menyenangkan. Seru banget pokoknya. Berlarian, kejar-kejaran, dan berbagai hal lainnya dilakukan di tengah lapangan yang luas. Permainannya ialah kucing anjing dan stop berhenti. Aku tau sih itu bukan nama yang sebenarnya karena setiap daerah punya panggilannya masing-masing.
Sepulang dari situ sesuai dengan waktu yang telah ditentukan yaitu jam 4an. Pulangnya juga menemukan pengalaman baru. Kami tidak biasanya lew2at di jalur umumnya, kami lewat jalur “Kadang T-rex”. Hal ini dikarenakan tempat itu mirip sekali dengan kadang t-rex yang berada di film Jurassic Park 1 ketika tokoh utamanya melewati tempat T-rex yang pagarnya begitu tinggi. Bedanya kadang yang ini cukup pendek, mungkin semanusia. Yang lebih mengerikan ada domba di ikat di tengah savanna. Pokoknya udah mirip juga sama umpan yang dipasang di film itu. Tinggal nunggu daun-daun gerak dan air dalam gelas bergetar deh. Aku sendiri punya ide untuk mengedit Photoshop dan menaruh T-rex dalam kadang itu.
Kagetnya sih ternyata kadang t-rex itu membawa kami untuk pulang lebih cepat bahkan sampai didepan pondokan persis. Senang rasanya ketika menemukan jalan baru yang gak pernah disadari dan terlewati.
Sorenya keajaiban juga datang lagi. Tiba-tiba ada sebuah warung bakso berjalan lewat di depan pondokan kami. Pokoknya surprising banget. Ketika kami membeli, ternyata eh ternyata arek Malang yang jual. Pantes mukanya kaya gondes gitu. Soalnya miliki anting dan rambutnya udah kaya anak punk gitu. Singkat cerita akrab juga sama dia, aku tanya kenapa dia mau ke Rote padahal kehidupan di Malang mengasyikan. Usut punya usut ternyata arek Malang satu ini buronan Polisi sama deep rentenir motor Kredit. Parah memang. Cuma dia juga udah hampir setahun di Rote dan justru merasa nyaman ketika disini. Ya lumayanlah punya kenalan Gondes disini.
Malamnya dengan keajaiban yang baru, jam 10 malam kami harus memasak ikan tuna segedhe perut orang gemuk. Pokoknya lebih dari 5kg pokoknya. Kami di beri oleh kapolres Rote Ndao beserta cumi dan aqua berkerdus-kerdus. Prosesnya cukup lama ternyata dari membuat fillet pada ikannya hingga berbagai macam. Mulai masuk tungku masak justru mulai jam 12 malam. Selesai makan kami baru selesai pada 3 pagi. Dan ala-ala saur kami baru selesai jam setengah empat plus makan.
Day 22 – Pesta Lagi 11 Juli
Abis sarapan dengan sepiring ikan tuna, langsung makan juga obat Paratucin. Tau kan abis makan obat rasa kantuknya tingkat tinggi, ya jadinya langsung tidur aja dari jam setengah 11 sampai jam 1 siang. Bangunnya gara-gara di bangunin sama Keiza. Adik kecil cerewet tapi seru.
Langsung berangkat juga ke Kelas harian dari jam setengah 1. Kami lewat jalur jauh sih sebenarnya, jadi ya memang membutuhkan waktu lebih untuk sampai ke Gereja. Materinya mengenai bagaimana membaca dan menulis. Pulang juga dengan kejadian yang sungguh memalukan karena kami salah mengambil jalan yang berbeda dengan guide jalan hutan kami yaitu ketua super one. Jadi kami terpisah hingga ditemukan di tengah hutan. Padahal sudah berkali-kali juga melewati hutan tersebut masih saja tersesat.
Mau sore hari karena cumi yang kemarin diberikan mau membusuk terpaksa harus segera untuk membeli es batu untuk mengawetkannya di pagi hari berikutnya. Berangkat dengan temen ku Ade untuk mneuju ke kecamatan jam 5 sore. Mampir buat ngobrol-ngobrol bentar u
Karena saluran air tiba-tiba habis karena perbaikan selokan depan rumah, jadi ya akhirnya terpakasa untuk tidak ada air dan mengubah halauan kamar mandi ke kamar mandi kepala desa. Jadi harus cepat-cepat cari akal untuk mendapatkan air dari sumber lain.
Malamnya sih kami mengadakan pesta kecil-kecilan di pondok kami dengan tetangga-tetangga pondokan . Menari tradisional ala rote Ndao. Muter-muter terus kaki di majuin kedepan dan mundurin kebelakang. Iya emang kalau mundur ya mundur, maju ya maju. Hahaha.
Day 23 – Rujak ala Rote 12 Juli
Siangnya sih segera meluncur ke pucuk Daeki untuk barter game house dengan rujak. Kapan lagi kan bisa makan rujak enak gratis. Walau tidak selengkap di Jawa. Cuma lumayanlah dapat papaya muda. Itung-itung juga bikin perut panas karena cabe. Pulangnya dapat bonus, seekor ayam jago lagi kembali dibawa pulang oleh tim super one Daeki.
Disambug langsung pergi ke Gereja untuk mengajar anak-anak. Materinya ialah sambungan dari kemarin mengenai membaca, menulis, dan mengenali huruf. Pokoknya anak-anak disini masih susah untuk mengenali atau membaca huruf bahkan yang terdiri dari 2 huruf sekaligus. Padahal beberpa sudah masuk di kelas 3 SD. Perlu effort lebih juga untuk mengajari mereka.
Kami selesai seperti biasanya jam 4an dan kami sampai pondokan pada pukul 5 sore di Pondokan. Tenang hari ini gak tersesat lagi seperti kemarin waktu pulang. Menu makan malamnnya juga menarik yaitu nasi kebuli. Jadi ya mantaplah. Disambung rapat unit.
Malamnya Sekte Aliran sesat dimulai lagi. Kali ini dengan narasumber dan jam tayang yang jauh lebih lama. Jadi banyak yang diomongin juga sih. Cuma ya lebih ke curhat pribadi sebenarnya,
Day 23 – Cristian sang Sasando 12 Juli
Pulang kepondokan langsung melanjutkan tidur hingga jam stengah 2 siang. Kami segera melanjutkan untuk mengajar anak-anak kembali pada siang hari. Materi hari ini ialah IPS. Ternyata eh ternyata, kembali lagi anak-anak susah sekali untuk mengerti materinya bahkan untuk anak SMP sekalipun. Jadi kami juga sempat kesusahan dalam mendelivery materi kepada anak-anak.
Jam 4 sore mampir bentar juga ke rumah papa Cristian Taka sang Maestro Sasando untuk mencari waktu kapan kami berlatih bersama-sama. Akhirnya kami memutuskan untuk hari Sabtu malam untuk berlatih bermain Sasando. Mantaplah, siapa tau aku dapatkan Sasando disini.
Malamnya aku sendiri gak bertahan selama beberapa malam sebelumnya. Mau gimana lagi, orang udah 4 hari yang lalu selalu tidur diatas jam 10 malam.
Day 25 - Badai Tebole 14 Juli
Kami berangkat sekitar jam 8 pagi melalui hutan. Mana posisinya juga hujan ringan, jadi kondisi jalanan sangat licin. Makanya kecepatan jalan kaki akhirnya melambat 20%. Kami sampai di gereja juga sekitar jam stengah 9 pagi dengan hujan ringan. Sosialisasi dimulai setengah jam 9 hingga jam 10 siang, lanjut juga ke arah lokasi pembuatan jamban untuk esok hari di dusun Daeki.
Kelar acara dan sampai pondokan jam 12 siang. Lanjut istirahat bentar hingga siang hari jam 2 kami berangkat lagi ke gereja Daeki. sampai disana jam stengah 3, malah anak-anak tidak ada yang datang. Ya udah kami memutuskan untuk mencari sinyal. Akhirnya setelah 15 menit cari sinyal sebagian anak-anak yang sudah pulang justru datang kembali. Jadi akhirnya kami mengubah materi untuk menononton film Minions.
jam 3an acara juga udah selesai. Kami pulang juga dengan kondisi angina masih sekecang pagi hari. Jadi jadi harus berhati-hati juga kalau semisal ada kelapa jatuh. Disini banyak sekali pohon kelapa yang buahnya sudah tua-tua. Mana jalur hutan dipenuhi pula oleh tumbuhan kelapa. Kalau sampai ada yang jatuh ke kepala, udah deh kelapa pasti jadi kepala.
Langsung mandi setelah itu menyantap bakso arek Malang. Nikmatlah. Mau jam 7 aku sempetin juga cari sinyal dengan temenku. Gila anginnya masih sangat keceng dan awan masih sangat kecang. Jadi berasa gak di Bumi deh. Buru-buru pulang dilanjutin juga buat rapat Unit untuk selesaiin kegiatan padat besok.
Day 26 – hari apes 15 Juli
Kuputuskan untuk mengikuti sosialisasi yang diadakan sama cluster agro di Gereja dengan dinas. Di undangan sih jam 7 warga harus datang, kenyataannya mereka datang jam 9. Telatnya 2 jam lah. Ya Waktu Indonesia Terserah Anda. Lagi pula aku juga ingat hari jumat adalah waktu untuk pergi kepasar para warga.
Jumatan juga jadinya diadakan setelah sebelumnya di cancel juga karena adanya acara persimian jamban. Biasanya pakai Oto Marjon yang biasa kami pakai. Ternyata eh ternyata oto yang kali ini dpakai berbeda, jadi waktu kedatangan datang sendiri seperti jalangkung. Padahal posisi lagi jalan untk ambil hp dipondokan. Jadi dengan sangat menyelsal berangkat ke kota tanpa membawa hp kesayangan. Sepanjang perjalanan betenya sumpah taik banget. Mau gimana lagi kesempetan ke kota kan sudah jarang karena bulan ini sudah full program. Jadi ya nyesel bangetlah. Ketika sampai dispot sinyal, teman-teman yang lain membuka hp aku hanya ikut nyanyi lagunya Nike Ardila sambil menahan bete yang semakin memuncak.
Ya udahlah bete menurun setelah menyantap nasi Padang langganan di pojokan lapangan Ba’a. rending enak nendang abis. Pulangnya sih juga membawa untuk disantap pada kemudian di malam hari. Pulang-pulang masih bete juga, Cuma nyanyi gak jelas di pinggir jalan karena gagal upload Instagram.
Setelah sampai pondokan tidak langsung beristirahat tetapi langsung menyusul teman-teman agro untuk bersosialisasi mengenai tanaman yang tak kunjung selesai dari jam 7 pagi. Setelah selesai menemani mereka hingga jam 4 sore, akhirnya buru-buru mandi dan cuci baju karena masih ada kloter kedua yang harus segera diselesaikan. Selesai melakukan keduanya, ambil cangkul dan membantu tim agro yang lainnya untuk membuat ladang tambahan. Mayan dapat jam tambahan lagi dah.
Menyantap kolak angat yang sangat wenak juga sayur kakung plus kuah rending menjadi awal dari malam ini. Lanjut deh untuk segera mengadakan rapat unit urusan jamban untuk besok. Baru kali ini juga ngurus jamban harus dirapatin.
Day 27 - TNI azek.. 16 Juli
Setelah itu jam 8 segera meluncur ke lokasi pembuatan Jamban di dusun Daeki untuk persiapan dan menunggu para TNI datang. Mereka sampai sekitar jam stengah 10. Sampai disana bukannya segera membuat ternyata ada penyambutan di rumah kepala desa hingga jam 12 siang. Baru setelah itu TNI segera meluncur untuk membantu pembuatan jamban di dusun Ngillibiti karena dusun tersebut yang paling siap. Tim TNI dibagi 2 tim. Kepala desa dan pak camat juga mendampingi dalam pembuatan jamban tersebut.
Prosesnya juga sangat memakan waktu lama sekali. Bahkan dari jam 1 siang baru selesai pada pukul 4 sore. Mulai dari mempesiapkan semen dan menata lokasi peletakan jamban yang ada. Sayangnya juga warga tidak banyak yang membantu. Mereka hanya duduk terdiam sambil memandangi TNI bekerja. Bisa dikatakan 90% pembuatan jamban di lakukan oleh TNI.
Sorenya segera kembali ke pondokan Karena kejatahan masak. Mulai masak sekitar jam setengah 5 sore. Ditengah-tengah masak tiba-tiba rombongan dari kepolisian yang didalamnya juga ada kapolres datang untuk menjenguk kami. Seperti biasanya , tak lupa beliau membawakan kami berbagai tambahan makanan. Sungguh baik hati sekali beliau dan jajarannya. Tapi gara-gara itu juga memasak kami aga tersendat karena harus membuatkan mi goreng untuk pak polisi. Setelah magrib akhirnya selesai masak juga. mayan juga bisa makan terong goreng balado pada sore hari ini.
Agenda terakhir malamnya ialah berlatih Sasando bersama sang maestro Sasando Tebole, papa Cristian Taka. Pertama sih susah juga karena terkadang jari kanan dan jari kiri berbeda gerak, jadi susah untuk menyamakannya. Cuma lama-lama kalau terbiasa jadi bisa. Bahkan hanya dalam waktu semalam aku sendiri lumayan 70% menguasai satu lagu. Rencananya besok juga akan berlatih lagi dengan pak Taka.
Day 28 - Mulai Take Gambar 17 Juli
Jadwal hari ini ialah mengambil gambar di beberapa spot terkait dengan program dokumentasi Tebole yang ku rencanakan. Berencana berangkat jam 8 dari pondokan, malah gak ada motor untuk menjelajah. Ya mau gamau kan harus menunggu giliran juga. katanya temen yang tadi pakai motor ada yang sudah balik sekitar jam 10 pagi. Akhirnya berujung untuk membeli gorengan di kaka Sushi sambil nyantai. Cuaca pagi ini juga cukup mendung dan angin sedikit kencang. Makanya syahdulah.
Motor akhirnya sampai pondokan pada pukul 10. Jadi langsung segera bergegas untuk mengambil gambar ke arah Daeki. sebelumnya sih sempet juga untuk cari sinyal demi kepentingan umat bersama. Take gambar kali ini sih tetap di Daeki atas serta dilanjutkan untuk mengambil di pantai Daeki. yak arena ada temen yang bisa diajakin hunting ya sekalian aja hunting.
Kembali kepondokan sekitar jam 1 siang. Karena sudah berjanji untuk berangkat ke rumah mama Sus untuk makan-makan dan bermain dengan anak-anak akhirnya aku dan temanku segera menyusul mereka dengan berjalan kaki. Lama sih memang, sekitar 30 menit lah jika dari pondokan.
Sampai disana istirahat sebentar dan disambung dengan makan siang berlaukan ikan laut dan ayam. Kapan lagi coba bisa makan siang. Setelah makan siang aku dan beberapa teman mencoba untuk menelusuri hutan terlarang. Hutan terlarang disini bukan berarti hutan angker dan bernuansa mistis. Akan tetapi karena pepohanan disitu tua akhirnya dilarang untuk ditebang. Katanya sih kalau menebang kayu disana pulau Rote tidak akan ada hujan serta diberikan sangsi hewan ternak. Sungguh kagum banget aku sama hutan tersebut. Rindang dan teduh. Bahkan suasana angker sama sekali tidak ada. Kalau pernah nonton film The Lord of The Rings bagian suku Ant yang kayu-kayu punya mata dan bisa gerak itu, nah hutannya seperti itu akan tetapi jauh lebih bagus dan tidak semenyeramkan di film. Ada warga local yang udah tua nyamperin kita dan menyuruh kita untuk kembali karena hutan tersebut terlarang. Takut kena denda suruh tumbal ternah ya akhirnya kami memilih pergi.
Perjalanan pulang melalui jalur biasanya dan sampai di pondokan sekitar magrib. Agak telat sedikit karena tadi juga menghinggap ke pusat sinyal juga untuk menelfon beberapa orang dan balesin Line. Malamnya karena mungkin sudah terlalu lelah juga aku cepat tertidur. Eh ditengah-tengahnya tidur temen-temen justru kebangun dan ikutan nonton. Karena filmnya horror romantin dan lucu ala Thailand akhirnya ya gak ada alasan untuk tidur lagi. Baru setelah selesai tidur deh.
Day 29 - Uji Nyali sama GPS 18 Juli
Pagi ini cukup cerah. Tidak seperti hari-hari biasanya yang biasanya penuh dengan awan dan angin. Selain itu pagi ini juga tidak ada banyak kegiatan yang berarti seperti weekend kemarin. Akhirnya ku putuskan untuk tidur aja pagi ini. Ditengah tidur aku bermimpi udah sampai di Jogja. Seneng banget rasanya. Eh bangun-bangun malah masih terbangun di tempat KKN. Santai. 2 minggu lagi pulang.
Siangnya sih seperti biasanya kami akan mengajar anak-anak di Gereja. Materi kali ini ialah Bahasa Inggris. Karena ini ialah program pribadi jadi aku yang mempersiapkan materinya. Inget juga karena anak-anak disini susah nangkep materi. Jadi ku buat yang ringan-ringan saja seperti Bahasa inggris warna dan angka. Sebenarnya sudah dibuat juga untuk anak-anak SMP juga untuk memperkenalkan diri dalam Bahasa Inggris. Akan tetapi karena anak SMPnya yang datang Cuma satu ya udah deh, hanya dua materi itu yang di ajarkan.
Malamnya setelah makan malam, aku menemani teman ku untuk membuat track GPS di beberapa spot di dusun paling bawah Kopedak dan dusun paling atas Daeki. ya etung-etung melihat Tebole dalam malam hari. Berangkat sekitar jam 7 malam. Pergi dulu ke kepala dusun Daeki untuk memberikan surat. Setelah itu kami ke wakil gereja untuk meminta ijin pinjam Gereja untuk sosialisasi. Ternyata papanya tidak ada di rumah. Jadi kami menyusul ke rumah yang lain untuk bertemu papanya. Ternyata papanya sedang kumpul keluarga. Jadi ikutan kumpul deh sama keluarga papa gerejanya. Pesta kecil-kecilan. Ngopi sama makan cemilan kaya roti-roti gitu. Baru kali itu merasakan kehangatan keluarga timur. Mantap dah pokoknya. Lanjut untuk ngetrack GPS. Karena malam ini sedang terang bulan ala martabak. Jadi sangat terang sekali jalanan. Mana di Tebole tidak ada listrik. Jadi hanya melihat berdasarkan cahaya bulan. Nice view dah pokoknya. Kelar baru sekitar jam 10 malam karena perjalanan yang cukup jauh dan sedikit melelahkan.
Kelar-kelar dari ngetrack GPS. Langsung bantuin temen ku yang sedang membuat kripik ikan untuk dimudahkan
Day 30 - SBY masih Presiden 19 Juli
Pagi ini jadwalnya ialah pergi ke SD Nitanalain untuk survey bentuk-bentuk kehidupan disana. Kami kira sih sd sudah mulai untuk pelajaran. Ternyata belum. Jadi waktu kami datang sebagian anak-anak masih ada yang keluar. Bahkan sebagian masih keluar kelas. Sungguh miris sebenarnya. Fasilitas di SD sini jauh dari SD ku 15 tahun yang lalu. Kursi, kayu, papan tulis masih sangat kurang. Bahkan kagetnya foto pak SBY masih terpajang di atas diding kelas. Padahal Pak Jokowi telah diresmikan jadi presiden sejak 2014 lalu. Kejadian yang bikin ku terheran ialah ketika ada salah satu anak desa yang terluka giginya kemudian berdarah-darah akibat tidak sengajan tabrakan dengan salah seorang temannya, gurunya justru tidak memberikan pertolongan medis sedikitpun. Salah satu guru juga ada yang takut darah. Jadi anak tersebut dibiarkan saja dan justru di suruh pulang sama guru-guru. Selain itu kagetnya anak-anak yang sekelas dengan si korban juga di ikut pulangkan. Heran banget dengan cara pendidikan di pulau terselatan Indonesia ini. Mungkin ini juga menjadi Jawaban kenapa tingkat pemahaman anak-anak disini juga sangat minim.
Pulang ke pondokan sekitar jam 12 siang. Karena cukup lelah ya take a nap sebentar sebelum berangkat ke Daeki untuk mengajar anak-anak. Jam 1 siang kami segera berangkat juga menuju dusun Daeki. kami dibagi menjadi dua tim, ada yang menemani proses pembuatan jamban, ada yang megajar anak-anak. Aku sendiri kejatahan untuk mengajar anak-anak. Repotnya aku dengan dua orang cewek lainnya yang kejatahan mengajar harus membawa 30 anak lebih ke pantai Daeki untuk belajar disana. Wah repotnya sumpilita… bayangin aja mereka tidak ada satupun yang jalan kaki, semuanya lari. Padahalkan sini kalau suruh lari udah capenya minta ampun. Sampai di Laut juga pada nyebar satu-satu. Mana ada anak kecil yang ikutkan, balita mau gedhe gitu. Jadi satu orang harus extra jaga satu anak itu. Mana mereka susah di atur juga. takutnya sih ada yang hanyut. Untungnya sih itu tidak terjadi sampai pulang. Pulang-pulang rasanya badan sempal semua deh.
Malamnya pas udah mau tidur disambung dengan rapat unit. Habis itu ke bukit lokalangan ndao untuk menikmati terang bulan.
Day 31 - Titik nol Selatan Indonesia 20 Juli
Kami berangkat skitar jam 10 melalui supir terbaik Tebole yaitu Merjon. Bayar 20 riba. Cukup mahal sih emang. Cuma semua itu kebayar setelah sampai di titik nol. Walau gak ada tugu seperti apa yang dibayangkan. Enaknya ialah pemandangan laut disana luar biasa. Ombaknya juga tinggi-tinggi. Bahkan lebih dari 2 meter dan kenceng. Diatasnya ada burung camar juga yang terbang. Pokoknya pantai seperti ini tidak akan pernah bisa ditemukan di pulau Jawa. Sebelum pulang cowok-cowok sempat juga untuk berenang di lautan. Karena memang ada spot untuk berenang disana.
kelas harian hari ini sih kembali yaitu soal pembelejaran pengenalan Microsoft office dengan berbsagai pengenalan mengenaii laptop dan aplikasinya termasuk gamenya. Biar gak bosen juga setiap ahri harus materi-materi yang school oriented banget.
Baru kali ini sore setelah kelas harian dengan anak-anak langsung masak nasi dan lauknya. Semuanya sih berawal dengan baik-baik saja. Sampai setelah mau makan ternyata eh ternyata nasinya belum matang. Masih ada keras rasa beras. Bagi aku sendiri gak enak sumpah de.h. baru makan beberapa sendok lansgung ku buang. Lapar biarin, asal gak makan beras.
Malamnya kan mau ada menari Kebali dengan warga sekitar. Nah kebetulan salah satu anak di kelompok KKN ada yang ulang tahun. Awalnya sih mau memberi tai sapi yang sudah kering. Karena takutnya malah gak suka jadi gak usah aja deh. Akhrinya disurprisin dengan roti yang ditancapin lilin dengan iringan lagu ulang tahun akustik dibawah sinar bulan purnama. Mumpung warga juga lagi pada berkum[pul Sukses deh itungannya. Steleah itu sempatin cari sinyal sebentar baru dilanjut menari kebalai sehabis makan mie.
Day 32 - Maen di Pantai 21 Juli
Bangun jam setengah 1 siang, untungnya sih pas banguntidur ada tukang jualan es krim totong. Jadi langsung beli eskrim dua biji Karena satu conenya Cuma di hargai 1000 rupiah. Murah banget memang. Rasanya juga unik. Seperti ada campuran kacangnya gitulah.
Barangkat jam setengah 2 siang untuk bertemu dengan anak-anak di Gereja Daeki dulu baru setelah itu berangkat bersama anak-anak ke pantai. Disepanjang perjalan kami mencritakan mengenai kemarahan bapak desa karena ada misscom yang terjadi antara tim KKN dengan kepala desa mengenai semen untuk pembangunan pondasi desa. Ya mayan lah dari apda sepanjang jalan diem mulu kan. Kami bermain dipantai dari jam stengah 3 samapi jam stengah 5. Mulai dari main game tradisional sampai berenang dipantai dengan anak-anak. Seru banget deh pokoknya.
Pulangnya itu baru kerasa banget capeknya. Bahkan diperjalanan pulang sempat juga terpleset di turunan menuju hutan Daeki. untungnya sih tidak ada luka yang bernilai sewaktu jatuh kecuali luka akibat malu. Mana diketawainkan. Ya lukanya Cuma malu ajalah.
Sampai dipondokan disambut dengan arek tukang bako. Ya lumayan buat mengajal perut yang sakit akibat kelaparan dari pantai. Pas magrib sempatin juga untuk membeli solar di ujung Daeki demi listrik yang lebih baik. Baru setelah itu makan malam dilanjut dengan bercerita horror di atas kuburan yang berisi kan 7 tengkorak pada saat malam jumat. Horror beneran pokoknya.
Day 33 - Pergi ke Pasar 22 Juli
Kelar belanja kami segera menuju ke rumah mama Lo. Satu-satunya keluarga muslim di kecamatan Rote Selatan. Mereka baik sekali dengan anak-anak KKN dari tahun ini dan tahun sebelumnya. Bahkan setiap kami pulang dari pasar, anak-anak KKN selalu mampir dirumahnya sekaligus untuk beristirahat sembari menunggu kang Merjon datang untuk menjemput.
Sampai pondokan sekitar jam stengah 1 siang. Telat sih itungannya karena sebelumnya ban Merjon sempat bocor ditengah bukit. Setelah itu makan dan mandi sebentar sebelum berangkat untuk mengajar anak-anak. Rencananya sih materi hari ini ialah Bahasa jawa dan IPS mengenai peta.
Seperti biasa kelas kami selesai jam 5 sore. Pulang ke pondokan dan segera untuk mempersiapkan acara malamnya di dusun Ngilibiti. Acara malam hari ini ialah syukuran bersama warga Ngilibiti karena pemasangan Waring atau atap mata air agar terhindar dari daun pohon beringin. Mayan, malam ini masak 13 ayam. Jadi kenyanglah. Namun yang disayangkan acara makan-makannya baru jam 10. Padahal posisi sini sudah lapar dari jam 7 malam. Emang perjuangan untuk makan enak.
Day 34 - Proyekan bareng lagi 23 Juli
Jam 11 berangkat, sampai disana seperti biasanya tidak ada satupun yang datang termasuk polisi yang seharusnya mengurusi untuk menjadi pembicara. Bahkan menunggu hinga jam 1 siang dan tak ada tanda satu orang pun yang nongol di tempat tersebut. Makanan dan minuman yang seharusnya buat orang-orang yang datang justru ku makan sendiri bersama teman-teman. Tiba-tiba ada kabar bahwa ada salah satu warga yang masak makan siang untuk anak KKN. Daripada datang di acara yang belum jelas, mending cabut cari makan dah.
Sampai ditempat makan ternyata makanannya belum matang. Jadi kuputuskan untuk menyusul dan membantu kelas harian hari ini di Gereja Daeki. seperti biasanya, lumayan juga untuk mengisi waktu sembari menunggu makanan. Materinyan ku rangkap menjadi dua. Jadi ada pengenalan Bahasa Jawa sama pengenalan Bahasa Thailand. Memang agak susah buat mereka. Tapi demi JKEM rela ku urus.
Belum sampai satu jam, aku segera turun untuk makan di gereja Ngilibiti karena makanan telah disiapkan disana.
Day 35 - Baa dan Nasi Padang Terenak 24 Juli
Rencana berangkat sekitar jam setengah 9 pagi, akan tetapi karena motor terlebih dahulu di pakai oleh teman untuk mengantar ember, jadinya berangkat jam 10 pagi. Sampai dikota ba’a sekitar jam stengah 12 siang. Karena sebelumnya kami tersesat karena menuju polres, padahal seharusnya kami berangkat ke polsek. Jadi memakan waktu sekitar 45 menit karena kecerobahan kami.
Sampai di Ba’a sasaran utama kami ialah mengisi perut di Nasi padang langganan dan terbaik sepulau Rote. Maklum, yang jual nasi padang Cuma satu doang. Setelah kenyang mengisi perut segeralah melancarkan misi untuk membuat grand design video di WifiID. Bisa dibilang kami cukup lama disana. Dari jam setengah 1 hingga jam 5 sore kami masih setia di WifiID. Mau gimana, udah 1 bulan lebih kami tidak bertemu internet sekencang itu.
Tidak rela sebenarnya untuk meninggalkan tempat ternyaman tersebut. Akan tetapi kami harus rela meninggalnya demi pulang kekampung halaman untuk sesuap nasi. Mampir dulu ke toko milik orang Tiongkok. Disono, cici dan kokonya berbicara dengan Bahasa Rote, logat Tiongkok, kecepatan Reper. Jadi aku dan Yoga sendiri kaga ngerti mereka ngomong apa. Bahkan aku sendiri sempat dimarahi oleh Cicinya mengunakan Bahasanya yang khas. Masa bodo deh.
Sebelum balik sempat diri dulu untuk mengisi perut dengan gado-gado. Kenyang kemudian balik ke Tebole. Memang sepi banget, bahkan tidak ada cahaya sedikit pun. Kalau di Jawa, jalanannya berasa di tengah-tengah Wonogiri menuju ke Pacitan. Sepi poll..
Untungnya sampai pondokan dengan selamat walafiat. Walau sempat mengalami kendala juga di jalan Daeki karena track yang extrem. Sampai di pondokan segera ikut rapat dan mandi. Tim superone daeki berencana untuk menginap di rumah mama Ledok malam ini untuk mengakrabkan diri.
Akhirnya berangkat ke Mama ledok pada pukul 20.00. cukup malam memang, jadi kami datang bercerita sebentar kemudian di lanjutkan untuk mengedit foto.
Day 36 - Ngurus WC cuy 25 Juli
Selesai dengan urusan output perut, gentian urusan input perut. Rencananya kami akan masak ayam untuk sarapan. Sebelum disembelih salah satu ekor ayam sempat lepas. Jadi pagi-pagi itu juga lari-lari ngejar ayam. Masaknya cukup lama, dari jam setengah 6 pagi sampai selsai jam 9 pagi. Padahal makannya Cuma 10 menit. Gpp lah ya, yang penting bisa sarapan enak puas tanpa dijatah seperti yang ada di pondokan.
Setelah pulang bersih-bersih badan dilanjutkan istirahat dulu untuk persiapan berangkat ke Daeki. niatnya sih bukan untuk mengajar, akan tetapi untuk mengambil shoot video. Jadi ketika berangkat dicampuri untuk mengambil beberapa gambar. Kami juga sempat mengambil shoot simbah-simbah tersenyum. Sempat juga untuk mengajar cara menabung dengan anak-anak.
Pulang-pulang kami mendengar kabar bahwa ada salah satu warga meninggal di dusun Kopedak, dusun terdekat dengan pantai di desa Tebole. Jadi satu unit diisuruh kesana untuk ikut pesta. Adat disini memang ketika ada orang meninggal tidak ada tadarusan atau baca-baca surat melainkan pesta. Masyarakat sini percaya bahwa orang yang meninggal itu harus dirayakan agar arwah lebih bahagia dan yang di tinggal tidak sedih. Untuk acara satu tersebut aku putuskan untuk tidak ikut karena berencana untuk menyusun dokumentasi dan mempersiapakan apa saja yang harus di ambil dalam sisa hari di Tebole ini.
Day 37 - Sunrising 26 Juli
Puas mengambil sunrise, waktunya untuk istirahat di pondokan sebelum lanjut ke program berikutnya. Planningnya sore ini ialah mengambil gambar anak-anak sedang bermain-main ala iklan Djarum tahun 2006. Memang susah sebenarnya untuk menyamai kualitas iklan Djarum walau iklan tersebut sudah 10 tahun lamanya. Shooting dari siang jam 2 hingga jam 5 sore akhirnya membuahkan hasil yang cukup memuaskan. Tidak begitu persis dengan iklan Djarum, Cuma senenglah bisa melihatnya.
Malamnya kembali lagi dengan urusan editing dan sebagainya. Kampret5nya ialah file KKN yang ada di Laptop dari awal sampai sekarang setelah di gabungkan dengan berbagai memo card DSLR teman-teman. Hardiskku telah menampung skitar 71 GB. Gila banyak amat. Pantesan juga beberapa har ini untuk editing memang sering ngelack. Ya udahlah, mau gimana lagi.
Besok pagi rencana untuk kembali ke Lokalangan Ndao untuk mengambil sunrise lagi dan beberapa video.
Day 38 - Ini baru asyik 27 Juli
Kelar take shoot. Ujungnya kami memilih shoot yang kemarin saja karena video yang saat ini tidak sesuai dengan ekspetasi kemarin karena cuaca yang kurang mendukung juga. jadi sepulang dari La Lokalangandao tim art kembali ke pondokan untuk tidur siang karena sore nanti ada shoot besar menanti.
Kelar istirahat jadwal sore ini ialah mengambil shoot anak-anak sedang lari membawa bendera merah putih di pantai. Dengan 3 kru film kami membawa puluhan anak kecil dari dusun Ngilibiti. Padahal yang dishoot hanya 4 anak dan 1 cewek berpakaian ala rote. Ya karena sisa nya kintil dan disuruh pulang gak mau, ya turuti aja mereka untuk ikut. Shootingnya cukup lama sebenarnya, dari jam 1 siang hingga jam 5 sore. Mana dari pantai Ngilibiti ke pondokan itu nanjaknya gak ada abis-abisnya. Cuapek poll. Jam 8 malam udah terkapar tak berdaya.
Day 39 - Epic Video 28 Juli
Selesai dengan urusan planning liburan, tim Daeki Superone kembali menuju pucuk Daeki untuk bertemu papa Viktor. Planningnya di bagi 2 tim, satu tim pendahulu yang akan mengajarkan cara pembuatan kripik pisang dan satunya ialah tim documenter untuk berfoto bersama nantinya. Untungnya sih aku nyusul nai motor, jadi gak kerasa capeknyalah. Sayangnya diatas Cuma bisa foto saja karena kerjaan lebih berat menanti di bawah.
Konsep eksekusi video tersusah akhirnya di mulai. Planningnya ialah kita akan mengajak 7 anak cewek yang berpakaian adat Rote dengan sasando. Jadi di buat scane epic gitulah. Mulainya sih sekitar jam sore karena persiapan memakai make up serta pemakaian kain yang cukup susah. Ditambah dengan anak-anak kecil yang banyak ikut. Jadi pengaturan anak-anak yang sangat susah sekali juga menjadi kendala dalam pembuatan satu scene yang bakal dipakai tidak sampai 1 menit ini. Kelar-kelarnya ialah magrib dengan kondisi capek dan malamnya harus segera editing lagi.
Day 40 - Pacuan Kuda & Nembrala 29 Juli
Tapi karena semalam kalah dalam menentukan siapa yang akan mengetake video esok hari di dusun kopedak, akhirnya pagi ini aku menuju dusun kopedak untuk segera mengambil video kegiatan agro. Meliputi panen, merawat tanaman, keadaan tanaman, serta penanggulangan hama. Selesai sekitar pukul 10 kami kembali kepondokan untuk mempersiapkan keberangkatan menuju liburan.
Jadwal yang telah disepakati sih jam 11 pagi kami dijemput, tapi seperti biasa kami di jemput sedikit terlambat. 5 menit sebelum dzuhur kami di jemput. Karena begitu nanggung ya sholat dulu deh. Siapa tau habis sholat semua lancar.
Dalam perjalanannya menuju Ba’a. kami mampir dulu ke Oele, tempat diadakannya Charlie Cup alias lomba pacuan kuda. Lomba ini sangat jarang sekali bisa ditemukan di pulau Jawa. Jadi tak ada alasan untuk melewatkan untuk mendokumentasikan event rakyat rote ini.
Tidak seperti lomba pacuan kuda yang biasanya dilihat dilayar kaca baik TV maupun Internet yang dimana joki kudanya ialah pria dewasa. Joki kuda di sini justru anak kecil yang masi menempuh pendidikan di Sekolah Dasar. Bahkan mereka semahir joki-joki dewasa. Mereka mengendarai Kuda mereka juga tanpa alas duduk. Epic banget perlombaan yang ada disini.
Saking epicnya dan terkagum mengabadikan perlombaan kuda, ada kegjadian meneggangkan yang kualami. Sebelumnya sudah diperingatkan panitia bahwa kemarin ada 2 penonton pacuan kuda yang dilarikan dirumah sakit ketika menonton karena ada kuda nyasar kearah penonton. Disini tidak semua kuda bisa diarahkan arahnya dengan baik. Nah pada saat aku mengambil video aku memang melihat ada salah satu kuda yang lari ke kerumunan penonton. Jaraknya memang jauh jadi cukup tenang untuk tetap mengambil gambar kuda yang masih berpacu dalam lintasan. Tak taunya, justru ada kuda yang mengarah ke aku dengan kecepatan kencang. Ya karena reflek dan siap untuk lari, akhirnya ya lari sambil bawa kamera yang telah dipasangi tripod. Itu ambil gambar yang paling ekstrim dah.
Malamnya setelah selesai menonton pacuan kuda. Dilanjut untuk makan malma sambil berkaraoke dengan kapolres Rote Ndao. Polisi sini memang super duper baik dah sama tim KKN sini. Sayang malamnya sedikit ada miskom dan kejadian yang tidak mengenakan. Jadi kelanjutan untuk berlibur ke Nembrala jadi bingung juga. untungnya sih show must go on. Kita masih tetap menuju ke Nemberala.
Day 41 - Nembrala Mantap ! 30 Juli
Sesampainya di Nembrala kami benar-benar berasa bukan di Rote lagi. Serasa di Bali tapi dengan Rasa VIP Beach. Pantainnya dan deretan rumah dan villa nya bagus banget untuk dilihat. Bahkan pohon kelapa di Nembrala sangat tersusun rapi. Tidak seperti dipantai-pantai biasanya yang cenderung pohon kelapanya berantakan. Sepanjang perjalanan ada juga melihat berbagai Yacth yang diparkir mulai dari ukuran kecil hingga besar. Impian ku banget punya gituan satu besok.aamiin.
Kami berhenti disuatu restoran yang juga menjadi resort. First impression kami begitu kaget karena lama banget tidak melihat tempat hedon. Interiornya sangat bagus sekali seperti kafe yang ada dibali. Makanannya mantap walau harga selangit. Satu yang bikin heran adalah kami ketemu Gelato ditempat seperti ini dengan harga yang murah serta rasa yang sangat enak. Wah gila memanjakan banget dah pokoknya.
Selesai menikmati restoran yang telah lama dirindukan kami segera menuju ke resort belakang restoran tersebut. Karena pemiliknya baik jadi kami dijinkan untuk melihat-lihat resortnya. Wah mantap banget dah bisa menginap ditempat itu. Pastinya sangat menyenangkan sekali. Dibelakang resort tersebut kai disugguhkan dengan pantai Nembrala. Sebenarnya sedikit kecewa juga karena ombaknya tidak setinggi yang dibayangkan. Katanya sih ombak tinggi hanya terjadi pagi dan sore hari, padahal kita di Nembrala pada siang hari. Jadi ya belum rejekinya. Yang penting liburan deh menurutku.
Tawaran mengiurkan di berikan oleh pemilik resort tersebut. Katanya kami bisa menikmati resort tersebut dengan all fasilitasnya dengan harga murah yaitu 250ribu perkepala. Padahal biasanya untuk turis-turis resort tersebut ditawarkan dengan harga 2juta perkepala. Gilak, diskonnya lebih dari 70% untukn resort. Baru kali ini juga mendapatkan tawaran sefantastis itu. Akan tetapi, karena keputusan awal ialah pergi ke Nembrala tanpa menginap jadi kami harus meninggalkan tawaran tersebut. Aku pribadi padahal pengen banget untuk menginap. Kapan lagi coba kan.
Day 42 - Anjir Ban Bocor 31 Juli
Ternyata ada aja kendala untuk mencari pokemon. Ban motor yang akan dipakai bocor dari beberapa hari yang lalu. Jadi mau gak mau harus nambal ban dulu sebelum dipakai. Jadi motornya ku bawa ke Bapak Leksi untuk di tambal. Bukannya di tambal, justru bannya hanya di beri lem Castol dan ditempelkan dengan potongan ban lain. Katanya sih mempan dan lebih mujur. Ya dah aku percaya-percaya saja sama tukang lem bannya. Eh ternyata setelah di pakai beberapa lama sampai selepas kota kecamatan. Bannya bocor lagi. Lemnya yang tadi tidak berfungsi, mau gak mau nambal lagi deh. Jadi kami berangkat dari jam 12 siang sampai Ba’a jam setengah 4 sore. Padahal waktunya bisa ditempuh dalam waktu 1 jam. Nasib nasib.
Sesampainya di Ba’a kami langsung menuju ke tukang Nasi padang untuk mengembalikan mood aku dan Yoga yang ancur karena ban bocor. Kami datang di tempat jual nasi Padang yang jual asli orang Padang. Ternyata rasanya enaknya poll. Bahkan melebihi dari rasa nasi padang yang biasanya ku beli di Jogja. Harganya juga ditidak mahal-mahal amat. Sesuai bangetlah. Aku sih herannya ialah ngapain orang padang jauh-jauh ke Pulau Rote untuk jualan nasi Padang.
Setelah selesai menyantap nasi padang yang sungguh enak dan mengenyangkan, luangkan waktu sejenak untuk mencari pokemon. Pokemon di Ba’a cukup banyak juga dan beagam. Jadi sayang untuk dilewatkan untuk orang yang baru saja ketahggihan mencari pokemon kaya aku ini. Baru setelah itu pergi ke WifiID untuk cari bahan editing yang akan dipakai nanti malam di pondokan.
Day 43 - Udah Agustus coy ! 1 Agustus
Kembali lagi menuju kepuncak Daeki untuk menemani pembuatan gapura sebagai lambang kita sudah pernah KKN di desa Tebole ini. Pembuatannya dibantu oleh seluruh perangkat desa. Kami hanya membantu sedikit dan mengarahkan pembuatannya mau seperti apa. Tapi panasnya. Wush berasa di open dah. Mana gersangkan. Jadi aku putuskan untuk tidur saja ke rumah papa Viktor. Berhasil tidur 1 jam bangun-bangun kami telah dibuatkan gorengan Telo dan Coca-cola yang titip dari kecamatan. Lama banget gak ngrasain senikmat ini. Mana pulang juga ditebengin Merjon. Alhamdulillah pol..
Agenda sore hari ini ialah lomba anak-anak dan ibuk-ibuk di SD. Banyak sekali lomba yang kami rencanakan untuk mereka seperti lomba lari kelereng, lomba masukin paku dalam botol, lomba nuangin pasir, lomba ban cepat, serta terik tabang. Lomba sih untungnya berlangsung sportif dan seru. Bahkan hampir seluruh desa datang untuk melihat lomba tersebut. Menyenangkan sekali pokoknya bisa berbaur dan bermain dengan warga disini.
Masuk dapur lagi untuk editing film KKN. Agenda mala mini ialah fixasi lagu beserta dengan gambarnya. Pengerjaannya cukup menyita waktu juga. mulai dari jam 7 hingga jam 12 malam. Capek dan terkadang enek sendiri dengan kerjaannya. Untungnya sih udah sekitar 30% finishing dan 70%nya harus dikejar dalam kurun waktu sekitar 3 hari kedepan. Full power !
Day 44 - Udah Agustus coy ! 2 Agustus
Pertandingan sepak bola antar dusun dimulai hari ini di lapangan Daeki. cukup jauh sebenarnya dari pondokan. Jadi ya mangatlah lewat kandang tirex untuk memontong jalan. Sejak jam 2 pertandingan antar dusun sudah dimulai. Ternyata yang melihat pertandingan disini banyak sekali. Bahkan mama mama datang bersama anak-anaknya untuk bersorak demi dusun mereka. Kata mereka juga sudah lama sekali desa Tebole tidak pernah ada pertandingan Bola karena setiap diadakan pasti rusuh dan ada yang Tawuran. Jadi ini adalah hiburan setelah sekian lama menunggu adanya pertandingan ini. Kelar-kelar sih pas magrib.
Pulang dari pondokan acaranya ialah untuk melakukan perpisahan dengan salah satu teman kami yang akan pulang duluan karena sabtu besok dia berangkat ke Thailand untuk Exchange. Jadi malam ini forum kami ialah kesan pesan mengenai satu stengah bulan berKKN. Tak lupa juga kami juga saling meminta maaf satu dengan yang lainnya. Kami juga menentukan berbagai katagori untuk nominasi dari masing-masing tim KKN. Bahkan acaranya berlangsung sampai jam 3 pagi. Ngantuk poll..
Day 45 - Motor Nyadat 3 Agustus
Day 46 - Horor, Bunyi Gamelan Tengah Hutan 4 Agustus
Siangnya laper, tim super one Daeki menuju ke rumah mama ledok untuk mencari sesuap nasi. Karena pagi ini mama mengajak kita makan disono. Ya namanya makan gak bisa ditolak lah ya. Apalagi ni yang masak adalah mama dalen juga, chief terbaik menurutku dibandingkan mama-mama yang lain.
Tim perjalananannya dibagi dua kelompok. Para cewek-cewek berangkat terlebih dahulu kemudian disusul dengan cowok-cowok minus gusta karena lagi sibuk di Ba’a untuk KRSan. Sewaktu perjalanan pulang Dengerin gamelan di hutan. Ya agak parno-parno dikitlah dengerin gamelan di hutan. Walau nada bukan gamelan jawa tapi gamelan rote, tetep aja parno. Jadi keingat salah satu adegan yang ada di film ‘Keramat’ yang ada bunyi-bunyi gamelan tapi gak ada yang mainin. Wah udah berpikir rada aneh, Cuma berhubung isinya cowok semua kita justru berani untuk mendekati bunyi gamelan. Cuma perasaan ketika didekati justru gamelannya semakin jauh. Udah tambah hororkan ya, Cuma gak mau nyerah begitu saja. Akhirnya setelah berjalanan sekitar 15 menit ketemu juga asal dari gamelan tersebut. Memang ada pesta yang orang mati. Kalau di hitung-hitung jarak dari gamelan ke situ ialah sekitar 5km. untungnya tidak dibunyikan di malam hari.
Sorenya kami pergi ke titik nol bersama dengan papa migel, kakek yang bersidia dipinjami rumahnya untuk kami tinggali lebih dari 1 bulan. Kami merasa berterima kasih kepada beliau. Makanya ketika papa migel mengajak kami untuk jalan-jalan kami segera mengiyakan ajakanya. Rencana berangkat jam 3 sore justru baru berangkat jam setengah 5 sore. Baru kelar sampai rumah sekitar jam 9 malam dengan oleh-oleh mata perih kemasukan pasir pantai.
Day 47 - Laptop Mati Suri 5 Agustus
Jam setengah 10 siang cowok dan beberapa cewek pergi ke Ba’a Jumaatan dan cari oleh-oleh buat yang cewek. Tapi dalam perjalanannya ke Ba’a sopirnya bukan lah sopir biasanya. Sopir kali ini spesialis oleh temen sendiri yaitu Harry. Katanya sih pengen nyobain track Tebole yang super ekstrim biar dapat sim T ( Tebole ). Karena jauh lebih sangat murah yang akhirnya di iyakan. Ternyata lebih petaka dari pada sopir biasanya. Cepetnya minta ampun, sampai mabok penumpang-penumpangnya. Sama naik rolercoster sama deh rasanya. Pokoknya ada dua kendaraan yang mengerikan, naik pesawat Wings dan satu lagi oto sopir Harry.
Sorenya sih kami berenca untuk perpisahan dengan anak-anak jam 3. Karena pulangnya super telat akhirnya kami baru datang dan bertemu anak-anak jam 5 sore. Kasian banget rasanya ngeliat mereka nunggu lama 2 jam. Inilah dosa terkejam kepada anak-anak menurutku. Sebagai gantinya kami mengantarkan mereka kerumah masing-masing sampai malam. Baru sampai pondokan jam setengah 8 malam karena mengantar mereka.
Pulang-pulang mau lanjut editing dan ternyata, jeng.. jeng.. jeng.. Laptop Error. Kaga mau nyala. Mencoba untuk menenangkan diri setenang mungkin karena mungkin gak kenapa-kenapa. Setelah dilakukan berbagai cara ternyata kaga mau nyala. Oke saatnya stress karena ni laptop ada laporan KKN termasuk Dairy ini plus film yang akan ditayangkan besok malam. Mana kata kepala suku superone Daeki laptopku overheat karena disleep terlalu lama. Mati deh mana kaga bisa dibenerin katanya. Pilihannya ialah pulang masuk bengkel atau beli baru. Stress deh kalau urusan dengan duit menduit. Akhirnya mencoba dulu untuk di dinginkan, siapa tau nyala. Dan cara dingininnya ialah ditaruh di depan rumah bersama anjing yang sedang tidur. Udara diluar juga lagi berangin dan dingin, jadi kaga ada salahnya untuk dicoba. Siapa tau bisa.
Setelah didiamkan selama 20 menit, akhirnya coba dinyalakan lagi. Dan ternyata, jeng.. jeng.. jeng.. tetep kaga bisa. Fix kali ini pasang muka melas semelas mungkin. Tapi gak ada kata akhir untuk menyerah. Di coba di goyang-goyangkan kaya orang buat eskrim goyang dan tiba-tiba nyala. Udah deh bersyukur banget waktu itu. Pelajarannya ialah jangan di sleep waktu KKN. Bahaya.
Day 48 - Goodbye Anak-Anak Daeki 6 Agustus
Serangan Fadjar ini ialah rencana untuk pergi pagi-pagi untuk memberikan kenangan-kenangan ke dusun daeki lewat hutan dan tidak boleh ketawan oleh apparat desa terutama pak Kades. Hal ini agar tidak dilarang. Sebelumnya kami mendapat perintah dari pak kades untuk tidak membagikan hadiah kepada Daeki secara langsung, harus lewat tangannya. Tapi kami tidak menyetujui Karena takut di ambil sebagian oleh apparat desa.
Akhirnya lonceng Santa bisa dibunyikan di pagi hari setelah persiapan selesai. Sekitar jam setengah 8 pagi kami berangkat.
Tepar Mama Ledok
Deadline Film
Party di mulai
Goodbye Regina
Day 49 - Goodbye Tebole & Hello Ndana 7 Agustus
Melepas anak-anak
good bye tebole
Menemui bupati
Jalan-jalan ke pulau Ndana
Menantang ombak
Pulau terhoror
Day 50 - Eksotika Ndana dan Gelato 8 Agustus
Menikmati arus nikmat selat rote ndana
Gelato terakhir di nembrala
Penebangan kupang
Cari oleh-oleh dan makan kepiting
Day 51 - AKhirnya pulang 9 Agustus
Jawa men
Perjalanan penuh kenangan
Mak aku pulang
Pokoknya KKN adalah hal yang sangat menyenangkan dan akan membekas seumur hidup. jadi nikmatilah segala proses yang ada. bisa dibilang juga dengan KKN kamu akan merasakan kehidupan baru yang jauh dengan hiruk pikuk masalah yang sedang kamu hadapi sekarang. satu hal cara untuk menikmati KKN juga adalah jangan berekspetasi lebih mengenai KKN. belive me.
Yang pada mau KKN, enjoy every history of your life. Cheers..!
