Mendengar kata NTT mungkin berbagai orang berpikiran NTT ialah surga pariwisata Indonesia. Kalau mencari informasi di Google, maka gambaran NTT penuh dengan keindahan alam yang akan menyambut dengan pesona birunya lautan dan hijaunya dedaunan atau padang savanna yang terhapar luas. Namun ketika kami masih diatas awan menuju Rote, salah satu temanku yang telah mensurvei mengatakan itu lah Rote, tempat kita mengabdi nantinya. Seketika aku kaget karena Rote yang kulihat tidak seperti yang ada dalam bayangan. Gersang, dipenuhi dengan berbagai pohon kelapa dan lontar serta beberapa pohon besar yang tidak memiliki buah. Bahkan dalam perjalananan menuju desa Tebole. Berbagai jalan masih tersusun oleh batuan kapur yang siap menjatuhkan kami apabila kami tidak berhati-hati dalam berkendara.

Namaku Reezky, mahasiswa Ilmu Komunikasi yang telah secuil mengabdi untuk negeri. Mengapa secuil ? karena aku pengabdian untuk negeri tidak sebatas dilakuakan ketika menjalani KKN yang hanya 7 minggu saja. 7 minggu itu bagiakan awal membuka mata untuk melihat Indonesia sesungguhnya. Inilah kisah pengabdianku di ujung selatan Indonesia, pulau Rote.

Berawal dari bulan Juni 2016 lalu dengan segala syukur, aku bergabung dalam suatu tim KKN yang selama ini aku inginkan yaitu di daerah NTT. Lebih bersyukur lagi aku di tempatkan di ujung selatan Indonesia tepat disalah satu desa terselatan di Indonesia yaitu desa Tebole, Kecamatan Rote Selatan, Kabupaten Rote Ndao. Suatu kebanggaan tersendiri bisa mengabdi di ujung selatan Indonesia.

Pemandangan unik yang kudapati pertama saat sampai di Rote ialah dapat melihat puluhan ekor sapi yang sedang menyebrang jalan. Bahkan tak kadang seekor Babi menghadang jalan kami. Ternyata, memang hewan di Rote berbeda dengan di Jawa yang selalu di kandangkan, disini hewan ternak seperti Sapi, Babi, Kuda, dan Kambing di bebaskan. Sedangkan tanamannya justru yang dimasukan kandang alias di pagar agar hewan ternak mereka tidak memakannya. Jika ternak tetap masuk dan makan tanamanam maka ternak akan diberikan kayu yang berbentuk segi tiga yang ditaruh dileher sehingga mereka tidak akan bisa menembus pagar. Memang, kata orang Rote, mereka lebih suka merawat dan menyiram tanaman daripada memberi makan ternak.

Saya sendiri tak pernah berekpetasi lebih ketika KKN. Hanya kesiapan mental dan ikhlasan yang menjadi modal utama. Faktanya desa Tebole merupakan salah satu desa di Rote yang belum teraliri listrik. Mirisnya, dua desa tetangga telah teraliri secara merata. Setiap malam kami hanya mendapatkan listrik dari genset yang hanya menyala dari jam 6 hingga jam 10. Sedangkan penduduk yang tidak memiliki disel hanya mengandalkan panel surya kecil yang akan berfungsi memberikan listrik pada bolam lampu yang dapat menampung listrik tersebut. Kadangkala lampu tersebut hanya bisa menerangi malam sekitar 3 hingga 4 jam walau telah di isi seharian penuh oleh sinar matahari. Lalu terkadang aku bepikir dengan kondisi seperti itu apakah anak-anak masih belajar dengan ketebatasan cahaya.

Terlepas tiadanya listrik, ada suatu hal yang menajubkan yang kami lihat. Ingat salah satu kutipan mengatakan “tanpa adanya gelap, bintang tak bisa terlihat” ? Ya, salah satu hal yang menajubkan di pulau Rote ialah kalian akan dapat melihat galaksi Bima Sakti atau sering yang disebut sebagai Milkyway dengan mata telanjang. Beribu bintang serta puluhan bintang jatuh menghiasi tiap malam kami yang gelap tanpa penerangan. Dengan melihat pemandangan tersebut kami justru menemukan kebahagian tersendiri didalam keterbatasan. Pastinya pemandangan tersebut akan langka apabila berada di pulau Jawa.

Bahkan untuk air. Tim kami mendapatkan pasokan air dari selokan kecil di depan rumah yang mengalir dari mata air di hutan Mamar, salah satu hutan yang teletak di utara desa. Kami mengalirkan dengan mengunakan selang dan pipa yang kami sambung-sambungkan. Terkadang apabila lepas atau tersumbat, maka kami harus menunda mandi atau aktivitas lainnya seperti mencuci hanya untuk membenahi aliran tersebut.  Padahal di Jawa, jika kekurangan air tinggal memutar kran tanpa harus bersusah payah. Tapi uniknya, ketika musim katak bertelur, bak Mandi kami dipenuhi dengan berbagai Kecobong yang siap terciduk ketika kami sedang Mandi. Awalnya memang jijik, bahkan ada yang rela membuang satu persatu kecebong di bak hingga bersih. Tapi akhirnya kami juga terbiasa walau kecebong menempel di bandan ketika Mandi.  Mungkin itu awal mula kami bersahabat dengan keluarga Katak.

Memang benar juga bahwa perbedaan pendidikan antar pulau di Indonesia masih sangat tinggi. Bisa dibuktikan di tempat KKN ku. Di Desa Tebole terdapat satu SD yang memang mayoritas adalah anak-anak asli desa. Karena setiap hari kami mengajar mereka, kami menemukan fakta bahwa sebagian besar anak masih minim pemahaman mengenai angka dan Bahasa. Bahkan beberapa anak yang telah duduk di bangku kelas 5 SD masih belum bisa matematika atau bahkan membaca huruf.  Bagiku salah satu hal yang menarik lainnya ialah jika selama ini ketika kita berangkat ke SD selalu di sambut guru dan bersalaman di depan gerbang sekolah, hal ini justru terbalik jika disini. Sebagian besar guru justru datang setelah murid-murid datang disekolah. Fasilitas sekolah juga sangat minim. Bisa dikatakan mungkin meja dan kursi telah digunakan dari awal sekolah berdiri. Foto Presiden dan wakil Presiden saja masih pak SBY dan pak Boediono, padahal hampir 2 tahun pak Jokowi jadi Presiden.

Mirisnya ketika anak-anak ketika di tanya memiliki cita-cita apa, mereka hanya menjawab untuk menjadi guru, petani, atau pendeta. Memang tidak ada salahnya, Cuma mereka kekurangan sosok figur yang dapat memberikan pandangan dan motivasi baru bahwa diluar sana banyak kesempatan yang dapat mereka raih dan capai.

Salah satu hal yang kusukai disana ialah, kami selalu menemukan sekelompok anak bermain bersama. Entah bermain bola, ban, atau sekedar bercanda gurau. Pemandangan itu langka apabila kalian mencoba menemukannya di Jawa terutama didaerah perkotaan. Yang ada mereka justru berkumpul tetapi melihat gadgetnya masing-masing. Seperti bermain Pokemon misalnya. Hal tersebut dikarenakan selain keterbatasan ekonomi untuk membeli gadget, sinyal di Tebole sangatlah langka atau bisa dikatakan hampir tidak ada. Sewaktu KKN kami benar-benar merasakan hidup tanpa gadget ditengah jaman modern ini. Kami belajar untuk berfokus pada apa yang ada disekitar kami, bukan disekitar recent update media sosial kami. Tapi kalau kangen keluarga atau pacar, beberapa dari kami akan pergi bersama mencari sinyal di atas bukit La Lokalangan Ndao. Tapi perlu tenaga lebih karena perjalanan dari pondokan menuju bukit tersebut membutuhkan waktu sekitar 20 menit. Belum juga menghadapi medan yang terjal dan angina pantai yang kencang.

Terlepas dari semua itu, saya justru jatuh cinta. Jatuh cinta dengan Rote, kehangatan dari masyarakat Rote membuatku merasa disambut oleh keluarga sendiri. Bahkan berbeda dengan pegawai pemerintahan di Jawa, di Rote mereka menyambut dengan hangat. Tak jarang mereka menjenguk kami untuk menanyakan kabar serta memberikan bekal untuk kami hidup beberapa. Masyarakat Rote khususnya penduduk Tebole selalu peduli dengan kami.  Makanan, minuman, atau senyuman selalu mereka beri bak menyabut anak yang pulang dari perantauan. Semua itu hanya kami dapatkan di Rote. bahkan dari apa yang mereka miliki dengan keterbatasan yang ada seperti yang telah kujelaskan, mereka sama sekali tidak mengeluh. Mereka selalu senang dengan apa yang mereka miliki.

Dari 7 minggu kami mengabdi, kami dapat mengatakan bahwa semboyan penduduk Rote yang juga kami angkat sabagai jargon tim KKN NTT 07 itu benar. Rote Ita Esa, Rote itu satu !