Setelah nikmat menikmati kiindahan pulau Bali akhirnya kini saatnya meninggalkannya untuk menuju petualangan baru. Ya destinasi selanjutnya Bersama ke lima temanku Novi, Gebs, Sandi, Diana, dan Citra menuju ke Banyuwangi. Sebenearnya perjalanan kali ini sekalian kami pulang untuk menuju ke Surabaya untuk melanjutkan perjalanan Ekspedisi Nusantara Jaya. Namun karena Banyuwangi termasuk list destinasi pada tahun ini sekalian aja wujudin.

Perjalanan ini dimulai pada pagi hari, kami kembali ke Terimal Denpasar untuk mencari bis kearah Gilimanuk. Sama seperti sebelunya perjalanan pulang kita tempuh selama 3 jam menggunakan bis tanggung yang harga tiketnya sekitar 50 ribu rupiah.  Kali ini duduk coba duduk didepan, persis dibelakang supir dan ternyata sensainya luar biasa. Supirnya cukup ngebut dan sering nyalip. Tak jarang berkali-kali mau nabrak kendaraan yang berpapasan. Aku sama Sandi yang sebelumnya tidur tenang sampai ngak bisa tidur cuma bilang “jancuk sopir ngawur, titisan Toreto. ”..

Sampai di Gilimanuk kita kembali menyebrangi Gilimanuk Ketapang, kali ini ombaknya lebih kenceng daripada sebelumnya. Jadi sempat mengalami goyangan sedikit tapi masih dalam batas wajar. Tiba di Ketapang, kita langsung munuju ke salah satu masjid depan Ketapang. Masjid tersebut memang menyediakan tempat untuk para pelancong beristirahat. Kita berencana menunggu disana hingga jam 10 malam karena Mobil berserta sopir yang kami sewa datang di jam segitu.

Ketemu kawan lama

Nah mumpung di Banyuwangi dan kebetulan banget kakak angkat / temen main / sahabat / patner bisnisku ada disitu. Dia pindah dari Jogja ke Banyuwangi untuk bekerja disini. Namanya mas Joe, websitenya bisa dikunjung di JoeCandra.com. Disana banyak banget info dan tips mengenai travel. Kebetulan juga udah lebih dari setahun kita engga ketemu.

Aku sama mas Joe ketemu di Masjid depan pelabuhan Ketapang. Karena udah lama banget gak cerita-cerita mas Joe ngajakin ke tempat hits di ujung jalan Pantura. Namanya Three “B” Cafe and Villa. Karena letak tempatnya di perbukitan, pemandangan disana emang sangat bagus, teman-teman bisa lihat selat Bali dan aktivitas pelabuhan disana. Kita banyak banget sharring dan cerita apa kita lakukan. Ya ritual wajib tiap kali ketemu sama Mas Joe. Belum cukup puas ngobrol, karena mas Joe mau ngajar paduan suara ( ini orang juga coach paduan suara di Banyuwangi ) maka aku balik ke masjid tadi Bersama temen-temen.

Selat Bali Malam Hari

View Selat Bali Malam Hari dari Three B Cafe and Villa

Setelah menunggu kurang lebih hingga jam 9an, akhirnya sopir beserta mobilnya datang di tempat masjid kami beristirahat. Kita langsung menuju ke Gunung Ijen. Waktu perjalanan yang ditempuh menuju kesana kurang lebih 1 jam dari pelabuhan Ketapang.

Pengalaman pertama pendakian ke Gunung Ijen

Pesona Kawah Ijen di Pagi Hari

Kesan pertama masuk di arena Gunung Ijen cukup serem. Pasalnya kiri kanan merupakan hutan, tumbuhan lebat, sedikit kabut, plus kita Cuma sendiri disitu. Jadi pikiran-pikiran aneh kaya di film-film horror mulai muncul di benak pikiran. Mencoba untuk tetap positif sampai akhirnya kita sampai di camp ground gunung Ijen.

Sampai di camp ground kita sempet nyruput kopi untuk hangatin badan. Kebetulan juga yang jualan kopi ternyata punya anak yang berkuliah di UGM fakultas Kehutanan. Sandi yang juga anak Kehutanan ternyata kenal sama anak beliau. Akhirnya ngobrollah cukup lama di warung itu. Sebenernya sedikit berharap karena kenal ama anaknya dapat kopi gratisan. Ternyata enggak. Hadeh.

Sempet istirahat bentar walau kurang nyenyak. Jam 1 pagi bangun untuk persiapan pendakian. Bener-bener dinginnya sampai menggigil. Padahal aku sendiri sebenarnya juga tidak bergitu kuat dengan dingin. Tidur dengan AC 22 derajat aja udah kedinginan soalnya. Ya makanya langsung balik ke Warung buat cari kehangatan jahe disana.

Sedikit pemanasan dan akhirnya kami berenam naik ke Gunung ijen. Ternyata track pendakian gunung ijen sangat enak, bahkan udah dibikin jalan yang memudahkan para pendaki. Selain itu beruntung banget pas kita naik, cuaca sangat cerah ditemani dengan bulan purnama yang sangat terang. Kita sampai bisa melihat tanpa harus menggunakan senter. Yang sebelumnya kita kira pendakian enggak bakal ramai ternyata ramai banget. Padahal kita melakukan pendakian di weekdays. Kebanyakan juga bukanlah turis lokal kaya kami melainkan turis mancanegara.

Santai Sejenak di di Kawah Gunung Ijen

Fisikku pribadi tidak cukup kuat untuk mendaki tanpa persiapan dan tidur yang pas. Agak ngos-ngosan naik Ijen. Rombonganku banyak sekali disalip oleh rombongan Bule-bule. Mereka bener-bener fisiknya ngak diragukan lagi kuatnya. Mungkin mereka sama sekali ngak berhenti alias istirahat pas mendakinya.

Sampai di pos pendakian, kita istirahat ngak lama-lama. Mungkin sekitar 15 menit karena disana ramai bule semua isinya dan kita udah lama berhenti dijalan tadi. Takutnya blue fire nya enggak bisa kelihatan karena matahari sudah naik. Memang sebelumnya kami memang ingin melihat blue fire yang katanya Cuma ada dua di dunia.

Sekitar 1 jam mendaki dari post istirahat tadi kita sampai di puncak gunung ijen. Ternyata indah banget di puncak gunung ijen jam 4 malam dibawah sinar purnama. Ya walau aroma menyengat belerang cukup terasa disana.

Kami turun lagi ke arah blue firenya atau ke kawahnya. Ku kira bakal mudah dan enggak jauh-jauh banget eh turunnya cukup lama. Banyak batuan dan kerikil yang bikin licin. Selain itu juga banyak sekali yang turun sampai macet di kawah gunung. Apes-apesnya kalau pas asap menuju jalur turun kita harus kuat nahan aroma yang bikin sesak nafas dan mata pedih. Bener-bener unik dan ekstrim sih bisa dibilang.

Jalur Pendakian dan turun ke Blue Fire Kawah Ijen

Tapi yang paling unik adalah para penambang Belerang yang menganggkut Belerang naik turun dengan cepat sekali. Padahal tracknya sangat licin ditambah beban yang bisa mencapai lebih dari 20 kg. salut banget dengan stamina dan fisik para penambang tersebut.

Akhirnya pertama kali lihat blue fire langsung. Yang ada dalam benak pikiran saat itu “ini api kaya api kompor LPG yang warnanya biru tapi menyala-nyala.” Nyalanya cukup gedhe. Bahkan bisa sampai 4 meter mungkin. Cuma kami disana ngak lama-lama. Paling setengah jam karena ngak kuat dengan asap belerang yang sering menerpa.

Blue Fire Kawah Ijen

Dengan segenap usaha kita naik lagi di lereng kawah. Sempat terpisah sekitar sejam. Aku sama Gebs karena urusan dokumentasi, Diana, Sandi, Novi, Citra menghilang. Sempet cari-carian disana. Coba mengenali dan cari diantara yang ternyata mungkin seribu pendaki disana. Rame banget, 80% bule. Untungnya ketemu. Kita lanjut keatas dikit, akhirnya lihat danau vulkanik kawah ijen. Spot satu ini jangan sampai terlupakan karena kerennya minta ampun.

Selesai menikmati keindahan blue fire dan danau vulkanis ijen yang menawan. Pada saat pulangnya kita disuguhkan dengan hijaunya pegunungan dan lereng gunung ijen. Malamanya saat mendaki kan tidak begitu terlihat. Pokoknya sangat memanjakan mata para pendaki yang telah Lelah naik sebelumnya.

Cacatan penting buat temen-temen yang mau ndaki, pesiapan harus matang. Sepatu juga harus disiapkan sepatu yang bergerigi alias layak untuk digunakan mendaki. Nah pada saat itu aku pakai sepatu yang sebenarnya buat ngampus dan geriginya udah sangat tipis banget. Makanya sering kepleset waktu ndaki, tapi lebih banyak waktu pulang. Karena cukup curam turunya dan banyak pasir kerikil makanya harus bener-bener ati-ati. Pelan banget. Ibarat bawa mobil gear satu, rem kaki, sama pakai hand rem. Pelan banget.

Pemandangan Pagi Hari turun dari kawah Ijen

Nah pulangnya kita lewat jalur yang sama pada saat berangkat. Ternyata yang malamnya sangat begitu horror, baliknya jalan yang tadi jadi indah banget. Hijau, lebat, dan sejuk. Kiri-kanan juga bukit. Jadi jalannya terbelah diantara dua hutan tropis gunung Ijen. Bahkan pengen rasanya kalau bisa berhenti sejenak buat foto di pinggir jalan karena bagus banget. Keluar dari hutan kita juga disambut hamparan kebun strawberry dan berabagi buah lainnya yang juga memanjakan mata. Yang sebelumnya udah pengen tidur di mobil jadi sayang rasanya kalau ngak dinikmati.

Nikmati Africa Van Java Banyuwangi

Savana Taman Nasional Baluran

Keluar dari kawasan gunung ijen daerah selatan Banyuwangi kita langsung menuju ke utara Banyuwangi yang kebetulan juga perbatasan Banyuwangi Situbondo. Kami langsung melanjutkan perjalanan ke salah satu taman nasional di Indonesia yang terkenal dengan sebutan Africa Van Java yaitu Taman Nasional Baluran.

Jaraknya memang cukup jauh kalau dari ijen. Waktu tempuh mencapai 2 jam lamanya dari Ijen ke Baluran. Di sepanjang perlananan karena bener-bener sangat capek makanya kita berenam tidur semua. Untungnya sewa sopir yang masih bisa bawa kita nikmati pesona Banyuwangi.

Setelah sampai di Baluran kita bayar tiketnya. Cukup murah mungkin sekitar 10ribu atau puluhan ribulah. Agak lupa juga kisaran berapanya.

First impression terhadap taman nasional ini “ Yaelah inimah kaya di gunung Kidul yang isinya pohon jati. Panas juga dan kerasa gersang. Mana jalannya jelek banget parah”. Ya memang kondisi disana cukup gersang dan jarang menemui hewan yang tinggal disepanjang jalan masuk Baluran. Bahkan jalannya sangat-sangat jelek. Tidak begitu dirawat, aspalnya bener-bener udah ancur. Aku berharap ini segera diperbaiki untuk lebih menyamankan turis.

Mungkin sekitar setengah jam lamanya baru kita sampai di Savana Banyuwangi dan ternyata bener-bener savanna yang luas. Sejauh mata memandang. Dengan ditumbuhi sediikit pepohonan ditengah-tengah menjadikan viewnya bener-bener mirip Africa. Ngak heran kalau julukannya Africa Van Java.

Sebelum kami keluar foto-foto di Savananya kami diingetin untuk enggak bawa keluar makanan apapun di luar karena monyet disana sangat ganas dan bringas. Memang di Baluran monyet lebih banyak daripada manusia, jadi ngak heran kalau sana berani kroyokan.

Ya akhirnya kita keluar dari mobil dengan berbekal kamera, jadi isinya foto-foto. Cuma waktu itu emang sangat panas banget jadi kita ngak mau lama-lama diluar. Cukup foto aja langsung masuk lagi ke mobil. Lagi pula Banten atau Rusa pada waktu itu yang jadi icon taman nasional Baluran enggak keluar karena kepanasan juga. Cuma viewnya di Savana sekali lagi emang bagus, bahkan ada background gunung kurang tau namanya Cuma itu memang berada di kawasan Baluran. Jadi membuat Savana Baluran semakin bagus buat di foto.

Pantai Bama Taman Nasional Baluran

 

Kita akhirnya lanjutin ke pantai yang ada di taman nasional Baluran. Didalam perjalanan menuju ke Pantai yang kurang lebih sekitar 15 menit waktu tempuhnya akhir kami melihat Banteng dan Rusa di jalan. Selain itu kami juga melihat burung Merak yang juga ada disana. Memang ternyata perlu sedikit berkeliling untuk bisa menemukan penghuni asli Baluran.

Setibanya di pantai karena kita cukup Lelah akhirnya Cuma nyantai aja di pantai sambil rasain angin dan dengerin suara ombak. Buatku pribadi Pantainya juga sangat bagus untuk di foto-foto. Bersih penuh dengan pasir putih dihiasi oleh hutan bakau. Dan mungkin baru pertama kali ini juga aku di pantai ditemenin monyet-monyet. Unik pokoknya.

Keindahan Pantai Bama Baluran

Karena tiba-tiba lapar aku ambil roti sisa yang ada di mobil untuk dibawa keluar. Dan ternyata belum sampai menutup pintu mobil itu lebih dari selusin monyet lari kearahku buat ambil roti. Sontak langsung masuk mobil dan kunci mobil biar ngak ada yang masuk. Beneran itu kaya di kroyok masa. Sekitaran mobil di ada monyet. Bahkan ada yang nungguin di kap mobil. Jadi aku bener-bener Cuma diam sampai 10 menit nunggu monyet-monyet itu pergi sambil makan didalam mobil. Buat temen-temen yang mau ke Baluran pokoknya ati-ati aja sama monyetnya.

Nikmati Kuliner Banyuwangi

Selesai menikmati Baluran kita langsung diantar ke kota Banyuwanginya untuk menikmati kotanya. Ya ternyata kota Banyuwangi lebih bersih dan rapi daripada kota sendiri.

Nasi Tempong yang super pedes

Kami diajak ke salah satu kuliner asli dari Banyuwangi namanya nasi Tempong. Sekilas ku pikir itu nasi ayam yang bumbunya beda. Ternyata setelah sampai sana aku kaget. Itu nasi dengan berbagai macam lauk pauk terus disirem kaya bumbu kacang tapi bukan terbuat dari kacang melainkan cabe. Jadi beneran kaya nasi sup cabe atau pecel cabe. Setelah dicoba pedesnya gila. Mungkin lebih pedes daripada ayam geprek cabe 10. Aku sendiri kaga abis, kebetulan aku paling ngak suka makan pedes malam-malam. Ya tau sendiri perjuangan esok harinya kaya gimana. Cuma rekomended banget dan pantas dimakan buat temen-temen yang suka pedes atau mampir di Banyuwangi.

Mager seharian di Penginapan

Sesampainya di penginapan kita bener-bener langsung pengen tepa raja karena udah Lelah dan kurang tidur. Oya kami nginep guest house depan stasiun. Bener-bener didepan stasiun. Bahkan guest housenya jadi satu area pakir dengan stasiun. Harga sewanya cukup murah. Dua kamar mungkin kalau ngak salah sekitar 300 atau 400 ribu semalam. Kaya kosan sih emang. Cuma yang penting bisa tidur.

Setelah terlelap semalam paginya aku sempet cuci baju karena stok baju tinggal dikit. Sempet ngobrol lagi sama mas Joe waktu di guest house. Ya karena kemarin sebenarnya masih belum puas buat ngobrol.

Seharian full bener-bener Cuma di guest house dan ngak ngapa-ngapain. Kebetulan juga depan guest house ada warung yang jual Aice. Habis 4 dalam waktu sehari karena kecanduan Aice.

Kereta kita berangkat jam 10 malam. Karena pemilik guest housenya baik kita dibolehin buat stay sampai keretanya datang tanpa ada biaya tambahan.

Setelah jam 10 akhirnya kereta kami ke arah Surabaya datang. Kita pakai kereta yang sama dengan kereta berangkat yaitu Mutiara Timur. Harga tiket bisnis tetep sama sekitar 150ribu. Begitu masuk kereta kami langsung terkapar tidur sampai di Surabaya.

Puas menikmati Bali dan Banyuwangi, selanjutnya aku akan bercerita pengalamanku mengikuti Ekspedisi Nusantara Jaya ke pulau Maradapan, salah satu pulau kecil diselatan Kalimantan. Terima kasih sudah membaca. Jangan lupa tinggalkan komentar dan rate starnya.

Bonus foto Monyet kawin sambil makan